Kisah Model Top Paula Verhoeven Jatuh Bangun di 'Catwalk'

Rahmi Suci Ramadhani, CNN Indonesia | Senin, 02/03/2015 11:11 WIB
Kisah Model Top Paula Verhoeven Jatuh Bangun di 'Catwalk' Paula Verhoeven ditemui di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan (CNN Indonesia/Rahmi Suci Ramadhani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi model Paula Verhoeven, menapaki karier sebagai model papan atas tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saat terjun ke jagat model, Paula mengalami jatuh bangun.

Model 27 tahun itu mengaku mulanya kerap mengalami penolakan lantaran berat badannya tidak ideal. Awal meniti karier di pentas mode, Paula memiliki bobot 70 kilogram.

Lantas, ia pun gila-gilaan melakukan diet. Ajaibnya, hanya dalam kurun tiga bulan bobotnya jauh berkurang. Kini, model asal Semarang itu berhasil mempertahankan berat badan di angka 55 kilogram.


"Dulu dari Semarang ke Jakarta, ceritanya saya mau kuliah dan mengepakkan sayap di modeling, tapi enggak ada yang mau menerima karena kegemukan," tutur Paula ditemui di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Ia melanjutkan, "Saya bersyukur banget punya pengalaman itu karena bisa melatih mental saya. Intinya, kita enggak boleh merasa penolakan itu kegagalan karena itu awal mula perjalanan kita."

Tekad menjadi model profesional berkobar setelah Paula memenangkan kontes Elite Model Look Indonesia 2003. Dari situ, meski menghadapi aral melintang, karier Paula mulai menanjak.

Berbekal mental yang telah tertempa, model setinggi 183 sentimeter itu pun mampu menghadapi tantangan keras di balik gemerlap pentas mode dunia.

Saat ini, tawaran berlenggok di catwalk dan pemotretan untuk Paula tidak muncul dari Jakarta saja. Sejak 2010, ia banyak bolak-balik Singapura karena urusan pekerjaan. Menurutnya, kini Singapura layaknya rumah kedua.

"Di Jakarta atau Singapura, semua proses dari nol. Kalau kita mau, kita harus tekun dan fokus, pasti hasilnya akan maksimal," tutur gadis kelahiran 18 September 1987 itu.

Tahun 2014 lalu, Paula bahkan berkesempatan untuk mengikuti program joint model selama tiga bulan di Milan, Italia.

"Tantangannya lebih besar karena cuaca juga. Cuaca di Milan itu dingin banget untuk kita pergi casting. Belum hujan. Tapi buat aku itu sesuatu hal yang menarik untuk dicoba," katanya.

"Kalau tantangan mental sih aku sudah biasa karena dari Semarang ke Jakarta pun aku biasa ditolak-tolak," ujarnya menambahkan lalu tertawa renyah.

Ia melanjutkan, "Kalau penolakan itu bukan penghinaan tetapi memacu diri aku untuk lebih baik lagi. Yang penting kita selalu perbaiki diri dan jangan lihat orang lain tetapi lihat ke dalam diri kita sendiri."

Menghabiskan tiga bulan dengan pengalaman tak ternilai di Milan, Paula menyatakan cerita yang paling berkesan sepanjang kariernya hingga kini justru terjadi di Singapura.

Pada 2014, model lulusan London Scool of Public Relations Jakarta ini mengikuti pentas Fashion Step Out yang digelar di Orchard Road Singapura. Kala itu, jalan raya Orchard disulap menjadi catwalk.

Jalur utama antara Ion sampai Takashimaya ditutup selama dua untuk menjadi pentas fashion show on the road bagi sekitar 150 model dari seluruh dunia.

"Itu menurutku pengalaman luar biasa. Seperti Jalan Sudirman sampai Bundaran HI ditutup untuk fashion show pakai high heels. Capek tapi keren banget," tuturnya antusias.

Senang di Indonesia

Pengalaman melanglang buana jagat mode di Singapura, Paula mengaku tetap bangga dengan industri lokal Indonesia.

Ia memaparkan, tak dimungkiri, Singapura dikenal dunia sebagai pentas mode bergengsi internasional. Merek-merek mode kenamaan dunia juga tidak ragu berdatangan ke sana.

Namun sebenarnya, Paula menuturkan, industri di Indonesia berkembang jauh lebih pesat karena baik pemula maupun senior bekerja secara total sehingga menghasilkan karya yang bagus.

Bukti lainnya, pentas mode lokal juga banyak dihelat dengan spektakuler, mulai dari tata panggung, pencahayaan, hingga busana yang dipamerkan.

"Jadi, menurut aku Indonesia itu dunia fesyennya cukup maju dan pesat. Plus, model lokal tetap bisa berkreasi dan berkarya," kata Paula.

"Aku senang di Indonesia industrinya maju," cetusnya kemudian.

Di Indonesia, bermula dari catwalk, Paula juga merambah ke dunia seni peran. Pada 2014, ia membintangi film layar lebar berjudul Supernova. Dalam film yang diangkat dari novel laris karya Dewi Lestari itu, Paula memerankan tokoh Diva.

Menikmati dunia barunya, Paula mengatakan tetap ingin fokus di dunia model yang membesarkan namanya.

"Film kalau ada tawaran lagi Alhamdulillah bersyukur, kita coba yang terbaik. Kalau enggak ada, fokus ke modeling karena modeling adalah hidup aku, sudah jadi darah daging," katanya mantap.

Ke depannya, perempuan yang mengidolakan model Gisele Bundchen ini bercita-cita untuk menjajal jagat mode terbesar di dunia, yaitu New York.

"Ke New York semoga secepatnya kalau ada kesempatan. Tapi kalau dekat-dekat ini belum, fokus ke Jakarta dulu. Ke New York itu cita-cita," tandasnya.

(mer/mer)