'Me no shita chiiku' Dualisme Gaya Make-up Aneh Remaja Jepang

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Jumat, 13/03/2015 09:40 WIB
'Me no shita chiiku' Dualisme Gaya Make-up Aneh Remaja Jepang Ilustrasi riasan berwarna pink. (Thinkstock/victoriaandreas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hampir semua remaja gaul di Jepang tampil dengan mata yang memerah. Namun ini bukan alergi, melainkan tampilan tren make-up terbarunya.

Jepang memiliki beragam tren make-up yang aneh namun unik. Kini, Negeri Sakura ini kembali mempopulerkan tren make-up terbarunya, yang disebut ‘me no shita chiiku’ atau undereye blush. Dilansir dari Refinery 29, perempuan Jepang menggunakan bauran warna permen yang merekah di bawah kantung matanya.

Bauran make-up bawah mata ini disapukan dari bagian bawah mata menuju ke tulang pipi.


Gaya undereye ini mulai bermunculan di Tokyo selama beberapa tahun belakangan. Namun tren ini mencapai puncaknya di musim gugur lalu. Gaya ini mulai populer dan menjadi ciri khas dari Momoko Ogihara, direktur kreatif dari Murua. Akhirnya gaya ini dikenal juga sebagai gaya Momoko blush. Lama-kelamaan gaya aneh bak orang sakit ini menjadi gaya subkultur fesyen di Jepang.

Tren kecantikan ini menjadi sebuah epidemi yang aneh. Karena undereye blush ini bisa membuat pemakainya justru terlihat seperti terpengaruh cuaca.

Untuk beberapa orang, tren ini dikenal juga sebagai gaya byojaku atau sakit-sakitan. Gaya ini sudah menyebar dan populer menjadi sampul muka majalah di Jepang dan blog kecantikan pada tahun lalu. Byojaku ditandai juga dengan aplikasi kosmetik dengan warna kulit pucat, kantung mata yang besar, dan kulit kemerahan di sekitar mata.

Namun, tak semua pengguna gaya me no shita chiiku mau terlihat seperti orang sakit yang sedang menggigil kedinginan. Model Harajuku, RinRin Doll justru menggunakan gaya ini untuk mendapat efek yang menyegarkan. "Saya justru menggunakan tren make-up bawah mata ini untuk tampilan yang lebih muda dan polos," katanya. "Ini membuat Anda terlihat sehat dan hidup."

Ditambahkannya, make-up yang digunakannya justru menampilkan simulasi hidup penuh warna, kesan segar seperti orang yang berolahraga dan muka memerah karena malu.

Dalam budaya Jepang, pipi yang memerah biasanya dikaitkan dengan orang muda karena mereka senang bergaul. "Anda bisa membaurkan blush pink dengan cara miring dari bawah mata ke tulang pipi. Ini membuat kontur wajah Anda lebih tirus dan matang," katanya menjelaskan.

Penempatan sapuan blush on yang tinggi ini juga menyebabkan pipi terlihat lebih bulat dan awet muda.

Akar budaya Jepang

Tren make-up ini dikatakan Rinrin sudah berakar dalam sejarah Jepang. Selama berabad-abad, gaya make-up ini digunakan oleh geisha dan juga pemain kabuki.

Namun, ia juga mengatakan bahwa undereye blush ini juga terinspirasi oleh aspek yang lebih modern dari budaya Jepang, anime. Dalam anime, pipi gadis anime yang disebut pipi kawaii ini sering digambarkan sebagai lingkaran oval berwarna merah muda tepat di bawah mata.

Ide make-up aneh ini memang terlihat seperti ciri khas buatan Jepang lainnya. Gaya ini merujuk pada sebuah fenomena buatan Jepang. Padahal, jauh sebelum gaya ini populer, gaya kosmetik bak orang sakit sudah pernah diperkenalkan di tahun 90-an. Kala itu, model Kate Moss yang menggunakan gaya heroin chic, atau tampilan make-up pucat dan lingkaran hitam di bawah mata seperti orang yang tengah mabuk heroin.

(chs/utw)