Mitos-mitos Keliru yang Bikin Stroke Susah Disembuhkan

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Kamis, 09/04/2015 17:04 WIB
Mitos-mitos Keliru yang Bikin Stroke Susah Disembuhkan Ilustrasi (pixologicstudio/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa tahun belakangan, penyakit stroke seperti menjadi salah satu penyakit yang paling populer di masyarakat. Tak heran memang, pasalnya Indonesia adalah negara dengan penderita stroke terbanyak di Asia.

Dokter spesialis saraf, Puspasari mengatakan data tahun 2014 menunjukkan, dari 1.000 orang, 12 di antaranya mengidap penyakit stroke.

"Stroke biasanya terjadi akibat kerusakan pembuluh darah otak yang mendadak," ujar Puspa dalam acara konferensi pers Pencegahan Stroke Dini di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.


Stroke merupakan suatu penyakit yang disebabkan adanya gangguan pada pembuluh darah di otak. Penyakit ini bisa terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah oleh plak maupun lemak darah. Penyebab lainnya bisa disebabkan pecahnya pembuluh darah akibat tekanan darah yang terlalu tinggi.

Penyebab-penyebab stroke tersebut umumnya dipengaruhi oleh gaya hidup yang tak sehat, seperti mengonsumsi makanan yang mengandung kolesterol, mengonsumsi alkohol, pola makan yang tak teratur, stres, dan penyebab lainnya.

Selama ini masyarakat percaya kalau penyakit stroke tidak bisa disembuhkan. Padahal, Puspa mengatakan stroke bisa disembuhkan. "Bahkan 85 persen stroke dapat dicegah," kata Puspa.

Menurut Puspa, selama ini memang banyak beredar mitos-mitos tentang stroke di masyarakat. Sayangnya, mitos itu justru sangat dipercaya dan memegaruhi proses pengambilan keputusan dari keluarga penderita stroke maupun pasien itu sendiri.

Selain mitos bahwa stroke tidak dapat disembuhkan dan tidak dapat dicegah, tapi sebenarnya bisa, ada beberapa mitos lainnya yang juga beredar dan dipercaya oleh masyarakat. "Stroke hanya menyerang orang tua, padahal tidak juga. Stroke bisa menyerang anak muda," kata Puspa menjelaskan.

Ada juga yang mengatakan kalau stroke menyerang jantung, padahal stroke menyerang otak. Tak hanya itu, perihal pengobatan pun masyarakat banyak yang keliru. "Mitosnya pengobatannya enam bulan, padahal seharusnya seumur hidup," ujar Puspa.

Ia juga mengatakan, dari pasien yang mengidap stroke, hanya 15 persen yang meninggal. Sementara 10 persen mengalami gejala sedang sampai berat sehingga membutuhkan perawat pendamping, dan 25 persen cacat minor. Sisanya, 10 persen pasien ditemukan dapat sembuh sempurna.



(mer/mer)