Orang-orang dengan Tujuan Hidup Tinggi Punya Otak Lebih Sehat

Windratie, CNN Indonesia | Kamis, 09/04/2015 07:31 WIB
Orang-orang dengan Tujuan Hidup Tinggi Punya Otak Lebih Sehat Tujuan hidup adalah pelindung dari hal-hal yang merugikan kesehatan seperti usia tua. (CNN Indonesia internet/ Allan Ajifo/Wikimedia Commons)
Jakarta, CNN Indonesia -- Orang-orang dengan tujuan hidup tinggi memiliki risiko lebih rendah terkena stroke, berdasarkan sebuah penelitian terbaru.

“Kami dan yang lain telah menunjukkan bahwa tujuan hidup adalah pelindung dari hal-hal yang merugikan kesehatan seperti usia tua,” kata Lei Yu, asisten profesor ilmu saraf di Pusat Penyakit Alzheimer di Fakultas Kedokteran Universitas Rush di Chicago.

Yang penting, tujuan hidup dapat ditingkatkan lewat perubahan perilaku atau berpartisipasi di dalam kegiatan sukarela, sosial, dan lainnya, kata Yu seperti dilansir dari laman Reuters.


Stroke terjadi saat aliran darah ke otak tersumbat. Rusaknya jaringan otak berkontribusi pada sejumlah kondisi termasuk demensia, masalah gerak, kecacatan, bahkan kematian pada orang-orang yang menua.   

Untuk studi yang diterbitkan dalam jurnal Stroke tersebut, Yu dan timnya menganalisis hasil otopsi pada 453 orang dewasa lebih tua yang terdaftar dalam proyek penelitian tentang penuaan dan memori di Universitas Rush.

Semua peserta menjalani evaluasi fisik dan psikologis tahunan, termasuk penilaian standar tujuan hidup, ini diikuti sampai mereka meninggal pada usia rata-rata 90 tahun.  Tidak satu pun di antara para peserta memiliki demensia saat mereka mengikuti penelitian, tetapi 114 orang mengalami stroke.

Pada hasil otopsi, 154 orang memiliki infark makroskopik, daerah kerusakan stroke yang terlihat dengan mata telanjang, dan 128 orang memiliki mikroinfark, daerah kerusakan yang terlihat dengan mikroskop.

Tujuan hidup dinilai pada skala lima poin, skor yang lebih tinggi menunjukkan tujuan hidup yang lebih besar. Rata-rata skor adalah 3,5.

Pada setiap kenaikan satu poin skor pada pengukuran tujuan hidup, kemungkinan memiliki satu atau lebih infark makroskopik menurun sekitar 50 persen. Sementara, tidak ada hubungan antara tujuan dan mikroinfark.

Penelitian ini dilakukan dengan baik, teliti, dan sangat menarik, kata Jose Biller, ketua bagian neurologi di Fakultas Kedokteran Universitas Loyola, Chicago.

Namun, Biller mencatat bahwa neurobiologi yang mendasari temuan ini kurang dapat dipahami, lebih kompleks dari yang kita bisa mengerti. Dia mengingatkan, orang-orang dalam studi cenderung berpendidikan tinggi. Berarti, hasilnya mungkin tidak berlaku untuk semua orang.

Yu berkata, bijaksana terhadap apa yang memotivasi diri seseorang adalah penting. Sebab, memotivasi diri untuk tujuan hidup dapat membuat seseorang berperilaku menguntungkan, katanya. “Kesadaran menjadi sehat pada orang dewasa dapat mendorong seseorang bekerja aktif, untuk meningkatkan makna dan tujuan hidup secara langsung,” kata Yu. 

(win/win)