Kemarin, Selasa (14/4) jalan itu diresmikan oleh Wali Kota Den Haag Jozias van Aartsen. Nama Munir sebagai pejuang HAM bukan satu-satunya nama yang diabadikan menjadi nama jalan di Den Haag.
Ada beberapa nama lainnya yang sudah lebih dulu diabadikan namanya sebagai nama jalan, seperti Martin Luther King, Nelson Mandela dan Bunda Theresa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, orang Indonesia yang datang ke Belanda pasti menyempatkan datang ke sana untuk berfoto. "Itu bisa jadi bukti kalau orang sudah liburan ke Belanda. 'Nih saya sudah pernah foto di jalan Munir'," ujar Tazbir.
Wisata Indonesia Tak Laku di Belanda
Sementara Belanda berupaya mengembangkan dan menarik wisatawan Indonesia secara tidak langsung, wisatawan Belanda malah sepi di Indonesia.
Salah satu hal yang menyebabkan hal ini adalah orang Belanda sulit untuk membedakan Malaysia dengan Indonesia.
"Beberapa tahun lalu, Dubes kita di Belanda, almarhum J.E. Habibie cerita kalau anak muda di Belanda enggak bisa membedakan mana Malaysia dan Indonesia," kata Tazbir. "Katanya sama-sama akhirnya sia," ujar Tazbir melanjutkan.
Hal inilah yang coba dimanfaatkan oleh Malaysia untuk menggaet lebih banyak wisatawan. "Malaysia pintar memanfaatkan itu. Akhirnya mereka gencar berpromosi di Belanda," kata Tazbir.
Ia mengatakan, banyak usaha Malaysia yang dilakukan untuk mendatangkan wisatawan Belanda. Mulai dari berpromosi melalui bahan-bahan cetak, mengikuti pameran, sampai mendirikan kantor perwakilan pariwisata di Belanda.
"Indonesia juga sudah ikut pameran dan penjualan juga, tapi mereka lebih aktif," ujar Tazbir.
(mer/mer)