Kematian Bayi Mendadak Lebih Banyak di Daerah Dataran Tinggi

Windratie, CNN Indonesia | Rabu, 27/05/2015 17:26 WIB
Kematian Bayi Mendadak Lebih Banyak di Daerah Dataran Tinggi Berdasarkan penelitian di Colorado, Amerika Serikat, bayi-bayi yang tinggal di dataran tinggi cenderung lebih rentan terhadap sindrom kematian mendadak (SIDS). (CNN Indonesia internet/ Bridget Coila/Flickr)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kendati sindrom kematian bayi mendadak atau sudden infant death syndorme (SIDS) sangat jarang, bayi-bayi yang tinggal di dataran tinggi cenderung lebih rentan terhadap sindrom tersebut, berdasarkan penelitian di Colorado.

Dikutip dari Reuters, tingkat kejadian SIDS untuk semua wilayah di Colorado adalah sekitar 4,2 kasus per 10 ribu kelahiran hidup, itu berarti 7,9 per 10 ribu, studi tersebut melaporkan.

SIDS terjadi pada bayi-bayi berusia kurang dari satu tahun. Penyelidikan dan otopsi pun dilakukan untuk mencari penyebabnya.


“Kami berharap, penelitian ini akan membuat keluarga-keluarga yang tinggal di dataran tinggi, juga dokter konseling mereka, kian mewaspadai faktor risiko SIDS yang diketahui untuk meminimalkan risiko,” kata David Katz, peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Colorado di Aurora, Amerika Serikat.

Di Amerika Serikat, SIDS membunuh sekitar empat bayi dari setiap 10 ribu kelahiran hidup. Kondisi ini merupakan penyebab utama kematian bayi, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di AS.

Untuk paham bagaimana ketinggian bisa memengaruhi risiko SIDS, Katz dan rekannya mengulas data sekitar 393 ribu bayi yang lahir di Colorado pada 2007 sampai 2012, serta catatan kematian pada periode tersebut.

Secara keseluruhan, 79,6 persen bayi tinggal di ketinggian di bawah 6000, dan 18,5 persen tinggal di 6000 sampai 8000 kaki. Hanya 1,9 persen yang tinggal di atas 8000 ketinggian 8000 kaki.

Dibandingkan dengan bayi yang tinggal di dataran rendah, bayi yang tinggal di atas 8000 kaki memiliki risiko SIDS 2,3 kali lebih besar, kata temuan tersebut.

Untuk meminimalkan risiko SIDS, dokter anak menghimbau orang tua untuk menelentangkan bayi di tempat tidur tanpa bantal, selimut, atau benda lembut. Pejabat kesehatan masyarakat di AS telah mempromosikan praktik tersebut dalam kampanye “Back to Sleep.”

Dari tahun 1990 sampai 1993, sebelum kampanye, ada sekitar 20 insiden SIDS untuk setiap 10 ribu kelahiran hidup. Dari tahun 1997 hingga 2012, turun menjadi 5,7 per 10 ribu.

Studi ini tidak menunjukkan alasan mengapa tinggal di tempat yang lebih tinggi menyebabkan SIDS. Namun, kurangnya oksigen di udara mungkin menyebabkan hipoksida, kata Katz.

“Hipoksida adalah faktor penghubung kausal yang masuk akal, juga telah terbukti pada bayi yang tinggal di tempat yang lebih tinggi,” katanya.

Terlepas dari ketinggian, anggota keluarga harus selalu mengikuti rekomendasi tidur aman yang aman untuk bayi sehingga dapat meminimalkan risiko SIDS, dan mengecah cedera kecelakaan dan kematian akibat sesak napas atau tercekik, kata Michael Goodstein, peneliti pediatri di Pennsylvania State University.

“Jangan panik tinggal di dataran tinggi,” kata Goodstein. Hindari faktor risiko seperti selimut lembut dan membiarkan anak tidur menghadap ke bawah. Sebaliknya, promosikan perilaku perlindungan efektif, seperti tidur telentang dan menyusui.


(win/mer)