Apakah Anak Miskin Lebih Dermawan dari Anak Orang Kaya?

Windratie, CNN Indonesia | Selasa, 16/06/2015 07:39 WIB
Apakah Anak Miskin Lebih Dermawan dari Anak Orang Kaya? Berdasarkan penelitian anak-anak dari latar belakang sosial ekonomi kurang mampu lebih memiliki berjiwa dermawan. (CNN INdonesia internet/ stokpic/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anak-anak dari keluarga kurang mampu menunjukkan tingkat altruisme lebih besar, dibandingkan dengan anak dari latar belakang sosial ekonomi kaya, yang bisa memberikan kehidupan psikologis lebih puas dan sehat, berdasarkan penelitian terbaru.  

Para peneliti dari Universitas California, Davis, Amerika Serikat, mengevaluasi bagaimana sistem saraf anak-anak prasekolah berperilaku saat diberi kesempatan untuk bertindak tanpa pamrih. Penelitian ini menganalisis, apakah efek sama terjadi dengan penelitian yang dilakukan pada orang dewasa.

Dilansir dari laman CNBC, sebanyak 74 anak-anak prasekolah diberitahu oleh peneliti, mereka bisa mendapatkan 20 'koin' dengan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan selama dua jam, yang nantinya bisa dijual untuk mendapatkan hadiah-hadiah.


Pada akhir percobaan, anak-anak prasekolah, berusia empat tahun, diberi kesempatan untuk menyumbangkan beberapa koin untuk 'anak-anak sakit fiktif' yang tidak bisa hadir.

Para peneliti memperhitungkan tindakan setiap anak berdasarkan dengan latar belakang sosial ekonomi mereka. Mereka pun menemukan, anak-anak dari latar belakang yang lebih kaya akan menyumbangkan  'koin' yang lebih sedikit dibandingkan mereka yang lebih miskin.

Alasan utama percobaan ini adalah untuk mempelajari efek kesehatan. Selama pengujian, ada elektroda yang melekat pada torso anak-anak, yang dipasang dengan izin orang tua sebelumnya. Elektroda itu merekam data fisiologis, di antaranya denyut jantung, nada vagal, yakni saraf yang menyorot ketenangan tubuh ketika bertindak dalam situasi tertentu.

Nada vagal tinggi dikaitkan dengan perilaku yang lebih santai dan menyakinkan, yang mengarah pada kesehatan fisik, sosial, dan mental yang lebih baik. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan individu menjadi altruistik.

Penelitian menggarisbawahi, anak-anak yang menyerahkan koin menunjukkan kondisi yang lebih tenang dan sejahtera selama tes.

Salah seorang peneliti utama, Jonas Miller, mengatakan, orang dewasa yang memiliki gaya hidup sosial ekonomi kaya menunjukkan tanda meningkatnya fokus terhadap diri sendiri dan penurunan sensitivitas sosial, yang dapat terdeteksi pada anak-anak juga.