Polusi Asap, Lebih Bahaya di Riau atau Jakarta?

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Selasa, 08/09/2015 16:32 WIB
Polusi Asap, Lebih Bahaya di Riau atau Jakarta? Kemacetan dan polusi asap kendaraan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada perbedaan mendasar di antara polusi asap akibat kebakaran hutan di Riau dengan polusi akibat kendaraan bermotor di Jakarta.

"Sebenarnya berbeda antara asap di Riau dengan yang ada di kota besar, di Jakarta misalnya. Asap di Jakarta  mengandung timbal dan bahan logam lainnya selain karbon, sedangkan di Riau mengandung karbon," kata Direktur Penyehatan Lingkungan Kemenkes RI, Imran Agus Nurali kepada CNN Indonesia di Kementerian Kesehatan RI Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (8/9).

Partikel karbon yang dikandung pada hasil pembakaran berupa karbon dioksida (CO2), dan juga karbon monoksida (CO). Dari senyawa karbon sisa pembakaran ini, kedua-duanya dapat menimbulkan penyakit pernapasan, bahkan kematian pada kasus keracunan CO.


Namun, selain berbeda kandungan oksigen pada ikatan senyawa tersebut, situasi pembakaran juga menentukan keberadaan dua jenis gas hasil pembakaran itu. Menurut Irman, lingkungan pembakaran yang terutup akan lebih menghasilkan CO ketimbang CO2.

Meski sama-sama berupa polusi asap yang sanggup membuat masalah pernapasan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), namun tingkat bahaya dari kondisi asap di Riau dengan Jakarta rupanya berbeda.

"Kalau kebakaran di alam terbuka seperti hutan, kadar polusinya dapat turun terbawa angin, sedangkan di Jakarta hanya berada dalam ruang lingkup yang sempit bagi penghuninya, sehingga menjadikan lebih berbahaya di perkotaan," kata Imran.

Selain ruang gerak yang terbatas bagi penduduk kota besar seperti Jakarta, menjadikan minimnya mobilitas udara dan penduduknya, rupanya frekuensi asap di Jakarta juga membuat kondisi semakin memburuk.

Kasus asap di Riau dan beberapa daerah di Indonesia, terjadi hanya dalam waktu-waktu tertentu dan tidak berlangsung secara kontinu. Sedangkan di Jakarta, kontinuitas polusi menjadikan warganya lebih sering terpapar dan menyebabkan akumulasi toksin pada tubuh.

Paparan zat mengandung toksin tersebut dapat dikurangi ataupun dibuang dengan berbagai cara yang disebut detoksifikasi. Meski biasanya detoksifikasi dilakukan untuk toksin yang terserap melalui pencernaan, namun ternyata memiliki cara yang hampir mirip untuk toksin yang menumpuk pada pernapasan.

"Konsumsi air minimal dua liter, dan konsumsi vitamin dan serat dari buah-buahan serta sayuran sangat berguna meningkatkan imun atau daya tahan tubuh," kata Imran. "Imun tubuh yang kuat membantu mengeluarkan racun dalam paru-paru dan lebih banyak menangkap oksigen di udara.”

(end/utw)