Ketika Tato Beralih ke Ranah Komersial

Windratie, CNN Indonesia | Jumat, 18/09/2015 10:23 WIB
Ketika Tato Beralih ke Ranah Komersial Ilustrasi seniman tato. (REUTERS/Jorge Dan Lopez)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di salon tatonya yang sibuk, Diamond Jack, yang terletak di jantung kota London, Soho, Darryl Gates mendapatkan permintaan aneh.

Seorang lelaki yang memakai label Nike dari kepala sampai kaki meminta tanda centang dari merek olahraga tersebut dirajah di betisnya. Tato itu akan bergabung dengan tiga tato lain di bagian tubuh Gates yang lain. Gates sudah terpengaruh, seperti ratusan orang lainnya yang meminta tubuh mereka dengan logo perusahaan.

Ini kedengaran seperti perilaku aneh, tapi sebuah pameran baru bertajuk Like Me: Our Bound with Brands di Design Museum, Inggris, menunjukkan bahwa perilaku tersebut tak seaneh yang dipikir. Orang-orang itu mengklaim, ada alasan di baliknya. Merek ibarat sebuah agama baru, dan kita berjanji setia dengan cara dramatis, menato logo secara permanen.


Dilansir dari Independent, menurut Simon Glynn, kepala sebuah perusahaan kreatif Lippincot untuk wilayah Eropa, merek bekerja dengan baik karena mereka mewakili hal yang memenuhi tiga kebutuhan dasar.

“Untuk menyederhanakan dunia ingar-bingar di sekitar kita agar kita mendapat makna, untuk memercayai sesuatu yang lebih besar dan lebih penting dari apa yang ada di hadapan kita, menjadi bagian dari kelompok di mana kita bisa mengidentifikasi diri,” kata Glynn menjelaskan.

Dia melanjutkan, “Kita membutuhkan hal-hal itu, dan selalu melakukannya. Pertanyaannya adalah di mana kita bisa mendapatkannya?”

Di masa sebelumnya, menurut pengamatan Gylnn, kami melihat ikon-ikon budaya, gerakan polik, tim olahraga, dan kelompok keyakinan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, baru belakangan ini, katanya, kita mulai beralih ke dunia komersial.

Di sisi lain, Glynn mengusulkan, menato logo perusahaan di tubuh seseorang bukan lah hal baru. Fakta terlihat dari tato Harley Davidson yang amat populer selama puluhan tahun. Maka, masuk akal jika image Harley amat meresap sebagai subkultur pemberontak.

“Baru-baru ini saya melihat tato merek kian komersial,” kata Glynn. Dia sendiri pernah membuat tato merek-merek fesyen terkenal. Logo Prada, Gucci, dan Levi's untuk pelanggannya. “Kadang-kadang orang bingung ingin melakukan apa,” katanya. “Jadi mereka memilih sesuatu yang mereka pikir berarti buat mereka.”

Untungnya, beberapa orang 'merangkul' merek besar dengan cara yang tidak permanen. Yakni, mencukur rambut menjadi logo, yang beberapa tahun terakhir juga kian populer.




(win/mer)