Artikel Sponsor

Laura Muljadi, Ubah 'Kekurangan' jadi Keunggulan

Advertorial, CNN Indonesia | Selasa, 20/10/2015 00:00 WIB
Laura Muljadi, Ubah 'Kekurangan' jadi Keunggulan
Jakarta, CNN Indonesia -- “Menjadi model awalnya bukan keinginan Aku, ini mungkin jalan Tuhan,” ungkap Laura Muljadi mengawali cerita perjalanannya di dunia model. Saat usia 13 tahun, wanita berdarah Pontianak-Serang & Chinese-Mongolian mengaku memang sempat masuk sekolah model tapi hanya untuk membentuk kepercayaan dirinya, bukan berkarir.

“Aku masuk sekolah model untuk membentuk rasa percaya diriku. Selain itu juga untuk pembentukan tubuh karena badanku saat itu memang lebih tinggi dari anak-anak seusiaku,” cerita wanita kelahiran Jakarta, 21 Januari 1985 ini.

Di usia 14 tahun, Laura kecil mengikuti sesi foto untuk sampul salah satu majalah kenamaan Indonesia. Namun, orang tua Laura yang memang tidak dekat atau tahu akan dunia model kala itu melarangnya untuk meneruskan pekerjaannya di dunia model.


“Saat itu Papi dan Mami minta aku berhenti ikut ajang model. Mereka minta aku untuk fokus sekolah. Lagipula saat itu aku juga masih kurang berminat dengan dunia model,” kata wanita yang memiliki tinggi badan 181 cm ini.

Namun takdir berkata lain, saat menempuh pendidikan S-1nya di Belanda justru Laura menamukan jalan menuju karir model profesionalnya. Laura yang kala itu mendapatkan beasiswa untuk jurusan International Communication Management (peminatan Corporate Communication &Journalism) di Belanda, harus bekerja paruh waktu untuk mendapat uang jajan tambahan. Mulai dari menjadi baby sitter hingga pramusaji ia lakoni.

Saat sedang menjadi pramusaji di salah satu restoran, Laura ditantang untuk menyusutkan berat badannya kurang lebih 30 kilogram dalam waktu enam bulan supaya bisa menjadi model, “Saat itu Emilie Bouwman salah satu pemilik agency modelling nawarin aku untuk jadi model.”

“Jika dalam waktu enam bulan Aku bisa menurunkan berat badan Aku, kata Emilie datang ke kantornya dan temui dia,” kenang Laura. Laura yang waktu itu berberat badan 80 kilogram merasa tidak ada salahnya menerima tantangan itu. Jika tidak berhasil pun, bonusnya ia menjadi lebih sehat.

Saat itu orang tua Laura tidak tahu pilihan besar putri tunggalnya itu.

“Saat pertama kali Aku bilang sama mereka, Aku kirim foto aku setelah show pertama. Mereka kaget dan panik dengan pilihan Aku. Aku jelaskan pelan-pelan,” kenang Laura.

Laura yang saat kecil sempat disebut ‘dakocan’ oleh teman-temannya itu mengaku kini jauh berpikiran terbuka. Hal tersebut tidak lepas dari pengalamannya selama berada di Belanda dengan keberagaman ras dan penampilan.

“Di situ aku merasa I’m worth it too. Penampilannya seperti apapun, yang penting bersih, terlihat menarik, percaya diri, dan tahu cara menampilkannya,” cerita salah satu mentor Cantik Indonesia bersama Safe Care ini.

Kembali ke Indonesia, Laura yang memutuskan untuk fokus di dunia model dan tidak mengambil beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya lagi ini memulai karirnya dari jaringan pertemanan yang ia miliki.

“Namun, memang tidak mudah. Waktu itu, aku terlalu kurus dan berkulit gelap. Akhirnya saat itu aku memulai pekerjaan sebagai pembaca berita,” ujar finalis Putri Indonesia tahun 2006 ini.

Meski terbilang sulit untuk mendapatkan pekerjaan setelah kembali dari Belanda, semangat Laura tidak pernah padam. Hal itu tidak lepas dari rasa kagumnya terhadap supermodel Tyra Banks.

“Aku kagum dengan Tyra Banks. Disaat industri model memiliki kebutuhan untuk model bertubuh kurus. Ia tetap ikut casting dengan bentuk tubuh yang curvy. Tapi ia tetap kuat. Hingga akhir seperti saat ini pun Ia tidak pernah gengsi dan tampil apa adanya,” ungkapnya kagum.

Laura pun membuktikan bahwa ia bisa bertahan di dunia model meski dengan kulit gelap dan pinggul yang agak besar, “Karena saat itu model berkulit hitam dan pinggul besar agak sulit diterima. Saat itu, kiblatnya masih model berkulit putih.”

Seiring berkembangnya industri mode di Asia, sosoknya mulai mendapat tempat. Puncak karir Laura, diakunya adalah ketika menjadi icon untuk salah satu acara fashion tahunan Indonesia. 

“Puncaknya mungkin saat menjadi icon Jakarta Fashion and Food Festival. Itu juga menjadi ajang pembuktian bahwa si ‘Dakocan’ ini bisa menjadi model,” kata Laura seraya tertawa dengan tulus. Justru, kulit gelap dan tubuh tinggi yang dianggap ‘kekurangan’ di masa kecilnya kini membawa Laura menjadi salah satu model dengan aset unik yang patut diperhitungkan. Bukan saja sebagai ajang pembuktian, menjadi icon JFFF juga ternyata menyelipkan cerita tersendiri bagi wanita yang mewarisi kulit sawo matang dari kakeknya ini.

“Saat itu Aku sedang di Rusia. bertepatan juga dengan iklan pertama JFFF tayang di salah satu koran nasional. Mami bilang kalo lihat iklan Aku. Aku tanya tanggapan Papi dan Mami bilang lihat saja saat pulang,” ungkap Laura yang kala itu terkejut karena ternyata orang tuanya menyimpan kliping iklan pertamannya itu. 

“Itu salah satu pencapaian tertinggi Aku. Aku senang karena bukan title-nya tapi karena orang yang paling penting di hidup Aku menghargai pekerjaan Aku itu,” lanjut Laura.

“Orang tuaku memberikan pilihan. Jika di batas usia kamu yang lain, baik buruknya (pilihan),kamu yang tanggung. Dan Aku yakin dengan pilihan Aku ini. Aku buktikan dengan kerja kerasku di dunia model,” pungkasnya. (Adv)


BACA JUGA