Asep, dari Tatar Sunda Hingga Kairo

Dhio Faiz, CNN Indonesia | Rabu, 04/11/2015 10:11 WIB
Asep, dari Tatar Sunda Hingga Kairo Konperensi Asep-Asep di Bandung, Jawa Barat (Dok. PAD)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masih ingatkah Anda dengan pemilik nama Tuhan? Atau sang pemilik nama Saiton? Atau juga Andi Go To School? Nama-nama tak biasa tersebut membuat geger publik Indonesia lewat berbagai media sosial. KTP dengan nama terang mereka menyebar viral hanya dalam hitungan detik. Ternyata kisah nama unik di dunia maya tak berhenti di situ.

Kali ini pemilik nama Asep yang mencuri perhatian. Memang nama Asep terkesan biasa di telinga warga Indonesia. Akan tetapi bagaimana jika para pemilik nama Asep di dunia berkumpul di satu tempat dan waktu yang sama?
 

Beberapa waktu belakangan tersebar sebuah undangan yang unik di dunia maya. Undangan yang viral secepat kilat tersebut berisi ajakan menghadiri pertemuan KAA. Bukan Konferensi Asia-Afrika, tapi Konperensi Asep-Asep. 


Pertemuan yang digagas Paguyuban Asep Dunia (PAD) ini berusaha menyatukan orang-orang yang memilki nama Asep dari seluruh dunia. Acara ini dihelat Oktober lalu di Kota Kembang, Bandung. 

Meski acara ini digagas dan dipersiapkan secara kilat, ternyata antusias para pemilik nama Asep sangat tinggi. Terbukti dengan angka peserta KAA yang mencapai 7 kali lipat dari target. 

"Prediksi maksimum 50 orang karena dari pengalaman paling 10 yang datang," ujar Asep Tutuy, Ketua Panitia KAA. 

Ia melanjutkan, "Tadinya saya menyebar undangan lewat Facebook ke 75 orang. Ternyata tersebar secara cepat. Dalam dua jam, yang sms saya sampai 150-an. Telepon tang-ting-tung terus." 

Tercatat lebih dari 300 orang mengonfirmasi datang ke acara tersebut. Para peserta pun tak hanya berasal dari Bandung dan kota lain di Jawa Barat. "Yang hari ini datang ada dari Medan, Pangkal Pinang Palembang, dan Bali," ujar Presiden PAD Asep Kambali. 

Dia menambahkan, sebenarnya banyak pemilik nama Asep yang ingin ikut serta. Namun karena hambatan waktu dan jarak, mereka tidak bisa ikut pada gelaran kali ini. 

"Ada yang dari Kairo, namanya Asep Rival Munawar. Dia kuliah di Al-Azhar. Di sana pun ada beberapa nama Asep," tapi tak bisa hadir. Mereka hanya kirim video semalam," kata Asep Tutuy. 

Tak hanya dari berbagai daerah, para pemilik nama Asep ini juga berasal dari berbagai kalangan usia.  Dalam KAA ini disematkan penghargaan kepada pemilik nama Asep termuda dan tertua. Asep Uneng Mas'ud kelahiran 1943 terpilih menjadi yang tertua, sedangkan Asep Riyadi kelahiran 1998 menjadi yang termuda. 

"Saya tidak malu memiliki nama Asep karena ini pemberian orang tua saya. Saya juga mau memberikan sesuatu untuk Indonesia lewat PAD ini," ujar Asep Riyadi.

Selain itu ada juga pemilik nama Asep dari kalangan perempuan. Namun sayangnya mereka tak hadir dalam gelaran kali ini. "Ada juga yang dari perempuan, tiga orang. Kemarin sudah konfirmasi tapi karena ponsel saya penuh sms dan telepon, saya belum cek lagi mereka datang atau tidak," ujar Asep Tutuy. 

Selain ajang berkumpul antar sesama pemilik nama Asep, KAA juga jadi ajang memecahkan rekor. PAD memecahkan tiga rekor yang dicatat Original Rekor Indonesia (ORI). Pemerakarsa Konperesensi dengan Pemilik Nama Asep Terbanyak,  Permainan Angklung dengan Pemilik Nama Asep Terbanyak, dan Kreator Kegiatan dengan Nama Asep Terbanyak. 

KAA sebenarnya merupakan pertemuan ketiga dari PAD. Pada 2008, Asep Iwan Gunawan berinisiatif membuat grup Facebook "How Many Asep There Are in Facebook?". Dari situ pemilik nama Asep dari berbagai negara pun berkumpul. Namun baru pada 2010 mereka berkumpul dengan jumlah lima orang. Tahun berikutnya, ada lagi pertemuan dengan jumlah peserta dua belas orang. Dan ternyata pada tahun ini jumlah tersebut membeludak sampai 300-an orang. 

"Ini akan kita jadikan gelaran tahunan. Insyaallah tahun depan kita gelar di Gedung Merdeka biar seperti KAA betulan. Insyaallah juga pesertanya seribu orang," kata Asep Kambali. (les/les)