Wanita Buta Bisa Melihat Saat Jadi Pria

Windratie, CNN Indonesia | Jumat, 27/11/2015 03:51 WIB
Wanita Buta Bisa Melihat Saat Jadi Pria Ilustrasi mata. (TobiasD/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang perempuan yang tak bisa melihat, membuat dokter terperanjat ketika tiba-tiba dia dapat melihat waktu kepribadiannya berganti.

Seorang pasien dari Jerman, yang biasa dipanggil BT, didiagnosis mengalami kebutaan kortikal setelah sebuah kecelakaan menghancurkan bagian otak yang bertanggung jawab terhadap indera penglihatannya ketika dia berusia 20 tahun.

Selain gangguan penglihatan, perempuan yang kini berusia 37 tahun itu mengalami gangguan identitas disosiatif (DID), dimana kepribadian ganda saling bertempur menjadi kepribadian utama. Total, dia memiliki sepuluh kepribadian, kata dokter yang mengobatinya.


Di kala dia menjalani pengobatan untuk gangguan tersebut, sebuah hal luar biasa terjadi. Ketika kepribadiannya, tiba-tiba dia bisa melihat kembali. Selama terapi, dia mampu melihat kembali ketika dia berada pada delapan dari sepuluh kepribadiannya.

Penglihatan perempuan itu bisa dihidupkan dan dimatikan dalam hitungan detik, tergantung kepribadian yang dia alami, ungkap dokter yang menangani pasien tersebut dalam PsyCh Journal.

Mereka percaya bahwa kebutaannya tidak disebabkan oleh kerusakan otak, lebih karena masalah psikologis daripada fisiologis. Psikolog Jerman yang melakukan penelitian Hans Strasburger dan Bruno Waldvogel menggunakan EEG (alat yang mendeteksi aktivitas elektrik di otak) untuk mengukur bagaimana kortek visual otaknya merespons rangsangan visual.

Pada saat diagnosis awal, dia diberikan tes penglihatan menggunakan kacamata khusus, lampu, dan laser, tes tersebut menunjukkan kebutaan. Karena tidak ada kerusakan fisik di matanya, diasumsikan bahwa masalah penglihatan pasti berasal dari kerusakan otak yang disebabkan oleh kecelakaan.

Ketika dia dirujuk melakukan psikoterapi 13 tahun kemudian, perempuan itu ternyata memiliki sepuluh kepribadian. Semua dengan usia dan jenis kelamin berbeda, serta temperamen bervariasi.

Beberapa kepribadian bahkan berkomunikasi dengan bahasa berbeda, diduga karena pasien pernah tinggal di negara berbahasa asing ketika masih anak-anak.

Empat tahun menjalani pengobatan, ketika berada dalam diri remaja laki-laki, BT dapat melihat sebuah kata di sampul majalah.

Dokter percaya, kebutaannya disebabkan oleh respons emosional terhadap kecelakaan di mana tubuhnya bereaksi dengan 'memotong' apa yang bisa dilihatnya. Dalam situasi emosional yang intens, pasien merasa ada keinginan menjadi buta, dan tidak ingin melihat. (win/les)


BACA JUGA