"Untuk sebagian besar kelompok, pengaruh periode waktu atas kebahagiaan adalah berkaitan dengan status pernikahan, kesehatan, dan aktivitas sosial. Namun bagi remaja, kebahagiaan mereka dipengaruhi taraf kehidupan di suatu negara," tulis penulis, Jean M Twenge dari San Diego State University.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi kelompok usia di atas 30 tahun, semakin bertambahnya usia, tingkat kebahagiaan mereka semakin berkurang. Sedangkan pada kelompok usia di bawahnya, 18 hingga 29 tahun, taraf kebahagiaan kelompok ini tidak jauh berbeda dibanding saat beberapa tahun sebelumnya meski terjadi kenaikan taraf kebahagiaan. Pola yang berbeda terlihat dari kelompok usia di bawah 18 tahun.
Anak usia 17-18 tahun merasa hidupnya semakin dewasa semakin bahagia. Hal serupa juga terjadi pada kelompok usia remaja antara 13-14 dan 15-16 tahun. Meski anak era 2000an masih merasa terus bahagia dari tahun ke tahun, namun kebahagiaan mereka yang hidup di era 1970 hingga 1990 masih jauh lebih tinggi. Para peneliti masih belum dapat membuktikan sebab secara ilmiah dan masih berspekulasi dengan hipotesa atas fenomena ini.
"Menjadi remaja berfokus pada kehidupan diri sendiri, sedangkan menjadi dewasa sering melibatkan pemeliharaan komitmen dalam berhubungan dengan orang lain yang menyisihkan kebutuhan individu," tulis tim peneliti.
Menurut mereka, dengan individualime yang tinggi, anak muda memiliki lebih banyak menikmati hidup. Sedangkan di waktu yang sama, orang dewasa mungkin tengah berjuang mendapatkan dukungan sosial di sekitarnya. Sebagai tambahan, tim peneliti menempatkan faktor perbaharuan teknologi seperti sosial media memberikan efek yang positif kepada kehidupan anak muda, namun memberikan efek negatif kepada generasi yang lebih tua.
"Peningkatan angan-angan dalam capaian pendidikan, pekerjaan, materi, dan hubungan dapat berpengaruh baik untuk remaja, namun berpengaruh kurang baik bagi orang dewasa yang tak dapat mencapai angan-angan tersebut.” (les/les)