"Pomade adalah kebutuhan pria untuk mendapatkan gaya rambut yang diinginkan," kata Ernest Meikel, perwakilan Indonesia Pomade Enthusiast (IPE) yang ditemui di kawasan Kemang, Jakarta, Sabtu (12/12).
Meski tergolong terlambat mengikuti tren pomade di luar negeri, di Indonesia ia langsung digemari. Menurut Ernest, kelebihan pomade adalah memungkinkan penggunanya mendapat tatanan rambut impian dalam waktu lama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Ernest tak memungkiri ketenaran pomade kelamaan akan luntur. Akan tersaring dengan sendirinya, siapa yang benar-benar memakai karena membutuhkan atau sekadar ikut-ikutan. Jika ingin tren tetap ada, tokoh dan produsen perlu "mengawetkannya."
Selama figur publik masih menggunakannya, pengikut tetap akan "setia." Untuk menjaring lebih banyak pengguna, aroma, jenis, dan kemasan jadi faktor utama.
"Jika aroma dan jenisnya itu-itu saja, konsumen akan bosan dan bisa menjadikan turunnya peminat pomade itu sendiri."
Pengguna pomade terkadang punya selera masing-masing. Misalnya, pria yang suka memegang rambut tidak akan menyukai jenis pomade yang oil based karena membuat tangan menjadi lengket. Alternatifnya, pomade water based. Namun di sisi lain, itu membuat daya tahan gaya rambut berkurang.
"Intinya, inovasi produsen tetap dibutuhkan. Pomade bukan barang baru di industri hairstyling," Ernest menyarankan. (rsa)