Dekranasda DKI 'Bobol' Departemen Store Prancis

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Kamis, 17/12/2015 12:38 WIB
Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DKI Jakarta, gandeng belasan desainer untuk menjual karya otentik ibukota di Galleries Lafayette, Pacific Place. Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DKI Jakarta menggandeng 10 desainer dan mengangkat tema Lenggak-Lenggok Flora Fauna Jakarta di panggung Jakarta Fashion Week 2016. (CNN Indonesia/ Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Niat Veronica Tjahaja Purnama untuk menghidupkan kembali Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DKI Jakarta, ternyata bukan wacana semata. Perempuan yang menjabat sebagai ketua Dekranasda DKI itu bahkan sudah 'membobol' Departemen Store asal Prancis untuk menampung hasil karya desainer Dekranasda DKI.

Setidaknya ada lebih dari 10 desainer dan 10 merek yang mewakili Dekranasda DKI, kini bisa memajang produknya di Galeries Lafayette yang terletak di Pacific Place, Jakarta. Hasil karya mereka dipajang di antara merek-merek internasional yang telah lebih dahulu menjadi penghuni Galeries Lafayette.

Merek itu antara lain Datie Handicraft, Miro Batikku, Reny Feby Jewelry, BatikKu-BatikMu, Benings Caliya, Batic Chic, Moen Da, Batik Setio Utomo, serta D'Leia. Ada juga Jasmine Teas, Rumah Sulam Rachmy, dan Nita Seno Adji.


Produk Desainer Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DKI Jakarta di Galleries Lafayette. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Karya mereka yang berupa tas, clutch, kain, sampai perhiasan, dipamerkan di depan salah satu pintu masuk department store. Kebanyakan tas yang dijual memiliki motif batik, floral, dan fauna, seperti elang bondol yang menjadi lambang Kota Jakarta.

Harganya beragam mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Nantinya juga akan dijual koleksi lain seperti baju-baju, kain tenun, dan batik yang tentunya juga mengusung nilai-nilai kebudayaan Betawi.

COO Galeries Lafayette Herlina Widjaja mengatakan produk-produk Dekranasda DKI akan berada di department store-nya sampai 10 Januari mendatang, terhitung dari 8 Desember kemarin. Dalam kurun waktu sekitar satu bulan itu, hasil penjualan Dekranasda DKI akan dievaluasi untuk menentukan keberlangsungan kehadiran mereka di sana.

"Kami selalu mau menghadirkan brand baru untuk menunjang kreatifitas. Siapapun itu, chef, penyanyi, artis, pemain film, desainer, balerina, selama mereka berkoneksi dengan kreativitas akan kami support," kata Herlina dalam acara temu media di Galeries Lafayette, Jakarta, Rabu (16/12).

Perjalanan Panjang

Cerita sampainya produk-produk Dekranasda DKI hingga bisa masuk di Departemen Store kelas atas ini, kata Veronica, cukup panjang.

"Jalurnya panjang, perlu kopi dulu nih kayaknya," kata istri orang nomor satu DKI Jakarta itu, sebelum memulai ceritanya.

Lobi-lobi itu dimulai sekitar lebih dari satu tahun lalu. Veronica ingin Dekranasda DKI bisa mengikuti ajang fashion show yang patut diperhitungkan di Indonesia, Jakarta Fashion Week (JFW). Ia pun tak segan menemui dan meminta, serta berulang kali mendekati Ketua Umum JFW, Svida Alisjahbana.

Akhirnya pada gelaran JFW 2016, Dekranasda DKI pun berhasil mendapatkan panggung fashion shownya sendiri. Sebanyak 10 desainer ikut terlibat dengan mengangkat tema ‘Lenggak-Lenggok Flora Fauna Jakarta’ untuk ditampilkan di atas runway.

Kerja sama tidak berhenti sampai di situ. Masih dibantu oleh Svida, Veronica juga meminta para desainer agar bisa mendapatkan bimbingan dan pelatihan. Tujuannya agar desainer Dekranasda bisa terus berkarya dan tahu bagaimana memasarkannya.

Produk Desainer Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DKI Jakarta di Galleries Lafayette. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Pasalnya, sejauh ini, anggota Dekranasda DKI yang sebagian besar terdiri dari ibu-ibu yang cukup berumur, belum punya motivasi besar untuk berkarya. Mimpi mereka hanya sebatas mengikuti pameran saja.

Padahal menurut Veronica, semua bisa lebih dari itu. Buktinya, setelah melalui proses kurasi, Dekranasda DKI bisa dianggap laik untuk berada di Galeries Lafayette.

Tapi, pencapaian ini tidak dianggap Veronika sebagai sebuah akhir. Ini justru modal awal Dekranasda sendiri, untuk lebih meningkatkan kompetensi dan lebih membenahi sistem.

"Sekarang kalau masuk Dekranasda DKI juga kurasi dulu, ada yang bilang seperti itu. Saya yakin kalau kita mulai berbenah, sistem-sistem ini yang akan mengkurasi barang, bukan orang. Saya tidak mau masuk Dekranasda DKI karena kenal, jadi kualitasnya bisa terjaga," ujar Veronica.

Tak hanya meminta tempat untuk berjualan, Veronika juga meminta kepada Galeries Lafayette untuk mengajarkan desainer berdagang. Ia meminta para desainer agar mempelajari ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk mengembangkan produknya.

Selain itu, Veronica juga menekankan ada evaluasi di akhir kerja sama. Hal ini juga untuk mengukur kemampuan Dekranasda DKI, terutama soal daya pikat konsumen.

"Tolong dilihat sebulan ini ada hasilnya bagus tidak, berapa penjualannya. Karena kalau di acara tertentu seperti pameran dua minggu, ada hasilnya, tapi yang beli mungkin karena tidak enak sama saya. Saat ini saya tidak mau seperti itu," kata wanita bernama asli Veronica Tan itu.

"Kami mau didampingi oleh profesional dan saya mau membawa Dekranasda DKI lebih baik lagi.”

Ke depan, Dekranasda DKI akan terus menggandeng para profesional di bisang fesyen agar bisa lebih produktif dalam berkarya, sehingga desainer-desainer dan para pengrajinnya bisa diberdayakan. Dan pada akhirnya, jika bersungguh-sungguh, akan mendatangkan banyak manfaat bagi para desainer sendiri, karena Dekranasda DKI hanya bersifat sebagai fasilitator. (les/les)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK