Iklan Rasis Pemutih Kulit Thailand Ditarik

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Sabtu, 09/01/2016 14:37 WIB
Iklan Rasis Pemutih Kulit Thailand Ditarik Miss Thailand 2014 Pimbongkod Chankaew. (CNNIndonesia Reuters Photo/Miss Universe Organization)
Jakarta, CNN Indonesia -- Iklan Snowz yang menampilkan aktris terkenal Thailand Cris Horwang akhirnya ditarik. Dalam iklan tersebut sang aktris mengaitkan kesuksesannya dengan kulit yang lebih terang.

Perusahaan di balik produk tersebut, Seoul Secret, sebagaimana dilansir BBC, mengajukan “permohonan maaf mendalam” dan menyebut tak ada maksud menyinggung.

Insiden tersebut memicu debat bagaimana masyarakat Thailand menyikapi warna kulit.


Komentar tentang warna kulit seseorang jadi hal yang biasa di negara dengan setumpuk produk pemutih kulit ini. Walau di sisi lain, banyak anak muda Thai sekarang tak terima stereotipe terkait warna kulit.

“Di dunia saya ada persaingan sengit. Jika saya tak merawat diri, semua yang sudah saya bangun, (kulit) putih yang jadi investasi saya, bisa hilang,” kata Cris Horwang dalam iklan video tersebut.

Pada titik tersebut kulitnya berubah hampir hitam. Pesaingnya yang muda dan sangat putih muncul di sisinya. Dia tertunduk lemas melihat kulit gelapnya dan menggumam, “andaikan saya putih, saya akan menang.”

Debat online pun memanas. Banyak pengguna Twitter hingga keputusan untuk menarik iklan tersebut.

Seseorang menulis dalam bahasa Thai di Pantip.com: “Saya baik-baik saja punya kulit gelap dan sekarang kalian bilang saya tersesat? Halo? Apa?”

“Menyebut orang berkulit gelap sebagai pecundang adalah sebenar-benarnya rasis,” tulisnya lagi.

Seoul Secret langsung menarik iklan itu, walau sampai Sabtu petang tetap dapat dilihat di YouTube, dan menyiarkan permintaan maaf.

“Yang ingin kami sampaikan adalah perbaikan diri yang sangat penting itu dalam hal kepribadian, penampilan, keterampilan, dan profesionalisme,” ujar firma tersebut.

Kontributor BBC di Bangkok Jonathan Head mengatakan sebagai sebuah slogan, iklan tidak boleh tumpul – berakhir dengan “selamanya putih, saya yakin.”

Banyakanya produk pemutih kulit yang tersedia di Thailand, serta usaha banyak perempuan Thai menghindari sinar matahari, menguatkan obsesi terhadap kulit pucat, ujar Head.

Dua tahun lalu, ketika Nonthawan "Maeya" Thongleng memenangi kontes kecantikan Miss Thailand World 2014, banyak komentar yang berfokus pada betapa gelapnya kulit Maeya dibanding kontestan lain.

Saat itu dia bilang ingin mendorong perempuan lain yang merasa rendah diri akibat kulit mereka yang gelap.

Di Thailand, kulit gelap kerap dihubungkan dengan pekerja kasar di luar ruangan, karenanya dianggap “kelas rendah”. Di samping itu, banyak elite perkotaan berasal dari etnis Tionghoa, yang cenderung berkulit terang dibanding orang pribumi di pedesaan Thai.

“Masalah ini bukan hanya terjadi Thailand. Masalah ini ada di seluruh dunia,” ujar kritikus sosial Lakkana Punwichai.

“Masalah ini juga menggarisbawahi masalah kelas di Thailand. Mereka dengan kulit gelap dianggap miskin dari pedesaan di Timur Laut. Kita memandang rendah pada mereka, pada orang Kamboja dan orang India yang berkulit gelap.

“Walau demikian, sikap berubah seiring para elite Thai mulai memandang rendah pada perempuan yang ingin tampil putih, sama seperti bule yang memandang rendah perempuan berambut pirang berkepala kosong,” ujarnya. (sil)