Indigo, Kemampuan yang Dibutuhkan Tapi Tak Diakui

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Minggu, 10/01/2016 08:30 WIB
Indigo, Kemampuan yang Dibutuhkan Tapi Tak Diakui ilustrasi aura tubuh. (Thinkstock/Artecke)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada hal lain yang ditangkap oleh Farid Johan ketika berbincang dengan seseorang, selain isi pembicaraan itu sendiri. Farid, atau yang terkenal dengan nama Suhu Naga, selalu menangkap energi-energi dan gelombang yang terpancar dari lawan bicaranya.

Dari energi dan gelombang yang terpancar itulah Suhu Naga bisa menerka apa yang sedang dirasakan lawan bicaranya. Begitu juga dengan apa yang mereka pikirkan. Bahkan pancaran energi dan gelombang itu juga bisa memicu gambaran masa depan tentang orang tersebut.

Kemampuan itulah yang membuat Suhu Naga dicari banyak orang. Mereka yang datang kepada Suhu Naga meminta bantuannya untuk menyelesaikan masalah mereka masing-masing.


Tidak hanya melihat peruntungan seseorang dari energi dan gelombang, Suhu Naga juga mempunyai kemampuan melihat aura seseorang dan mencari faktor X mereka. Dengan kemampuannya tersebut Suhu Naga mengaku bisa membantu banyak orang dari berbagai kalangan.

"Pejabat tinggi ada, dari bidang politik dan pemerintahan. Militer sekitar 60 persen. Sisanya entertainer dan orang biasa," kata Suhu Naga saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Cara Suhu Naga dalam melakukan aksinya itu pun cukup sederhana. Kadang dia hanya menggunakan piramida kecil dengan batu permata di tengahnya untuk memantulkan energi. Jika benda itu tak dibawanya, ia menggunakan apa saja yang bersifat memantulkan, seperti gelas atau cermin.

Namun, tak jarang juga Suhu Naga tidak menggunakan sarana apapun untuk membaca energi dan gelombang itu untuk kemudian membaca sutuasi dan membuat prediksi. Energi yang terpancar dari orang dihadapannya langsung terpancar ke tubuhnya, lalu diterjemahkan.

"Setiap saya ngobrol, saya selalu diizinkan untuk merasakan gelombang pikirannya, ada apa sama orang ini," ujar dia.

Kemampuan yang dimiliki Suhu Naga itu sebenarnya merupakan anugerah untuk dirinya. Sejak kecil ia terlahir sebagai anak indigo.

Kemampuan melihat energi, aura, dan hal-hal yang berbau metafisika atau lainnya ia dapatkan dengan melatih sifat indigonya. Suhu Naga mengaku pernah belajar tenaga dalam untuk memperkuat kemampuan alaminya itu. Oleh sebab itu, kini ia menguasai ilmu energi.

"Saya memperdalam bela diri yang ada unsur seni metafisik, tenaga dalam, dan nafas. Dari olah pernafasan itu saya jadi peka energi dan gelombang," kata laki-laki yang tidak mau menyebutkan umurnya itu.

Sejauh ini, hanya itu yang pernah dilakukan Suhu Naga. Bahkan ia mengatakan sama sekali tidak pernah membaca buku atau belajar meramal. Semuanya mengalir begitu saja dengan tuntunan kemampuan indigonya.

Gambaran Masa Depan

Kemampuan itu jugalah yang sering membuat Suhu Naga mendapat gambaran-gambaran masa depan tanpa harus melihat energi dari orang lain. Suhu Naga sering mendapatkan mimpi-mimpi atau perasaan yang ia nilai sebagai pertanda.

Misalnya saja pada awal tahun lalu. Ia pernah diberi tanda, setiap bangun tidur. Suhu Naga selalu merasakan tubuh yang kepanasan seperti terbakar. Sampai pada akhirnya ia menyadari kalau tanda itu merujuk pada kebakaran hutan yang merajalela di tahun lalu.

Suhu Naga juga pernah bercerita tentang gambaran yang ia terima sebelum ayah dan kakeknya meninggal. Beberapa waktu sebelum ayahnya meninggal, Suhu Naga mengatakan kalau ia bertenu dengan ayahnya di dalam mimpi. Tapi ayahnya melambaikan tangan padanya.

Selain itu, Suhu Naga juga pernah mendapat gambaran masa depan tentang Olga Syahputra. Sekitar tahun 2012 ia pernah meramalkan Olga akan sakit.

Ternyata, saat itu ia diberi gambaran menakutkan di dalam mimpinya tentang Olga. Ia melihat sosok komedian itu diselimuti kabut hit dan merah terbakar pada bagian leher dan kepala hingga ke bagian tubuhnya.

Suhu Naga juga mengaku melihat cahaya seperti kilatan petir berwarna hitam yang menyambar Olga. "Timingnya juga dikasih tahu, ada kilatan besar 2015 tapi tidak spesifik. Kenapa dibatasi? Karena tetap itu kuasa Tuhan. Saya hanya diizinkan menyampaikan," kata dia.

Diberi anugerah 'bisa melihat masa depan' tentu sangat disyukuri oleh Suhu Naga. Ada kebanggaan dalam diri karena menjadi salah satu orang yang memiliki kemampuan istimewa.

Namun, kadang, anugerah yang melekat pada dirinya itu membuat ketakutan tersendiri. "Kadang saya kalau tidak menyadari anugerah ini, saya takut. Papa saya meninggal, saya tahu. Kakek saya meninggal, saya tahu. Saya berusaha menolak karena takut."

Dibutuhkan Tapi Tak Diakui

Suhu Naga mengatakan hingga saat ini masih banyak orang yang mendatanginya untuk meminta diramal. Hal ini menjadi bukti tersendiri kalau ternyata di zaman modern yang serba mengandalkan teknologi dan mengedepankan logika, ramalan masih dipercaya.

Tak cuma untuk kebutuhan pribadi, dia juga mengatakan prediksi-prediksi dari ramalan Suhu Naga dibutuhkan juga sampai ke dunia politik. Tapi sayangnya, mereka yang masih menggunakan jasa itu tak mau mengaku kalau mereka memang membutuhkannya, malahan mengaku tidak mengakui kebenaran prediksi ramalan.

"Kita ini kalau di dunia umum, politik, artis, kalangan apapun kami dibutuhkan. Tapi dibantah dengan alasan kesombongan, logika, atau maaf ya, benturan keyakinan, agama, atau sok tidak perlu tapi nyatanya kami terpakai di setiap dimensi," kata Suhu Naga.

Pada akhirnya mereka yang memiliki kemampuan memprediksi masa depan itu disamarkan identitasnya dengan disebut penasehat spiritual atau sebutan lainnya yang berbeda-beda.

Sebenarnya, kata Suhu Naga, prediksi-prediksi masa depan atau ramal-meramal sudah ada sejak zaman kerajaan. Mereka yang memiliki kemampuan tersebut disebut dengan istilah penasehat kerajaan atau tabib kerajaan.

Para Raja menggunakan kemampuan mereka untuk membaca situasi dan menentukan langkah selanjutnya.

Kendati masih banyak orang yang percaya ramalan, Suhu Naga menyarankan agar menganggap ramalan itu sebagai rambu saja. Bukan sebagai kepercayaan. Sebab, ketika menganggap ramalan menjadi sebuah kepercayaan, seseorang akan tersesat.

"Ramalan itu rambu. Tetap logika dipakai dan manajemen diri. Kayakinan dan iman hanya kepada Tuhan. Tapi sayangnya orang sekarang kan tidak seperti itu," ujarnya. (les)




ARTIKEL TERKAIT