"Sebenarnya dari dulu kami sudah mencoba merangkul, tapi sulit. Ini sudah kebablasan ketika semua orang bisa main Barongsai. Ini kan budaya leluhur, terus terang kami kecewa bila Barongsai dijadikan untuk ngamen," kata Jacky.
Jacky mengaku sudah berulang kali mengajak para 'pengamen barongsai' itu untuk bergabung dengan kelompoknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tidak masalah selama masih dalam koridor budaya dan pakem-pakemnya. Karena bagi beberapa keturunan Tionghoa, Barongsai ini seperti didewakan. Ya karena maknanya sebagai pengusir kejahatan dan pelindung. Tapi kalau dijadikan alat mengamen, ya tidak sreg rasanya," tutur Jacky.
Dia pun mengatakan di luar negeri memang ada yang menggunakan Barongsai untuk mengamen.
Di sisi lain, mengamen dengan Barongsai menjadi pilihan Herman. Pengamen Barongsai jalanan itu mengaku telah menjadikannya sebagai pekerjaan sejak dua tahun lalu.
"Barongsai kan seni, jadi saya pilih ini karena ingin berkesenian," kata Herman ketika berbincang singkat dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
"Biasanya saya sendirian, tapi kalau ramai saya ada tim dan Imlek biasanya main di komplek perumahan. Tidak pernah ada yang protes juga saya mengamen Barongsai," ujarnya.
(meg)