Ada Pungutan Liar di Besakih, Pariwisata Bali Tercoreng

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Kamis, 10/03/2016 15:03 WIB
Ada Pungutan Liar di Besakih, Pariwisata Bali Tercoreng Pura Besakih (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bali tak hanya terkenal dengan wisata pantainya yang indah. Dihuni oleh mayoritas penduduk beragama Hindu membuat Bali berbeda dari destinasi wisata lainnya.

Selain upacara adat, rumah ibadah berbentuk Pura juga menjadi daya tarik tersendiri buat para wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Tak heran jika tempat ibadah menjelma menjadi wisata religi karena banyak orang yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Agama Hindu di Pulau Dewata itu.

Salah satu Pura yang paling terkenal dan sudah sekian lama menjadi destinasi wisata di Bali adalah Pura Besakih. Pura tersebut merupakan tempat persembahyangan umat Hindu terbesar di Bali karena terdiri dari banyak pura.


Pura Besakih atau yang juga dikenal dengan Pura Agung Besakih juga memiliki arsitektur yang mengangumkan. Puluhan anak tangga yang terdapat di gerbangnya seolah mengantarkan siapa saja untuk masuk lebih dalam ke pura.

Kemegahan bangunan pura itu jugalah yang menarik banyak wisatawan untuk datang. Tak terkecuali Poedji Rahardjo, seorang wisatawan asal Surabaya. Dia mengunjungi Pura Besakih pada akhir bulan Februari 2016 lalu.

Meski sering bolak-balik ke Bali, Poedji mengaku tak pernah menyempatkan diri untuk mengunjungi pura yang telah menjadi ikon Pulau Dewata tersebut. Dalam kunjungan yang entah ke berapa kalinya itu, Poedji pun membulatkan tekat untuk mengunjungi Pura Besakih.

Untuk menuntaskan rasa penasarannya melihat pura terbesar di Bali itu, Poedji menempuh perjalanan selama dua jam dari Seminyak Bali. Ia pegi bersama teman-temannya menggunakan mobil pribadi sewaan.

Sayangnya, pengalaman pertama Poedji mengunjungi Pura Besakih sekitar dua minggu lalu ternyata tak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Semuanya tercoreng begitu saja ketika ia menyaksikan praktik pungli yang dilakukan di destinasi wisata religi tersebut.

"Pertama kali ke (Pura) Besakih ternyata mengecewakan dan memalukan harga diri," kata Poedji kepada CNNIndonesia.com dalam pesan singkat.

"Saya diminta sumbangan Rp200 ribu. Turis asing diminta US$50."

Padahal, kata Poedji, di pintu masuk pura pengunjung sudah dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp15 ribu per orang dan Rp5 ribu untuk kendaraan roda empat. Tapi, ketika melewati sebuah pos, pengunjung kembali dimintai sejumlah uang. Dalihnya sebagai uang kebersihan.

"Uang tiket, masuk ke pemerintah, untuk desa lain lagi," kata Poedji menirukan ucapan salah satu penjaga pos kepada seorang turis. Ketika turis mengatakan sudah membeli tiket, penjaga pos justru menyuruhnya untuk pulang.

"Kalau tidak mau memberi uang sumbangan untuk desa, silahkan pulang," ujar Poedji kembali menirukan ucapan penjaga pos itu.

Turis tersebut pun akhirnya menanyakan berapa uang yang harus ia bayarkan lagi untuk tetap bisa masuk ke pura. Poedji bercerita, penjaga pos meminta uang sebesar US$10-20. Sontak, turis mancanegara itu pun kaget.

Di sisi lain, seorang turis yang memberikan uang US$1 malah dicemooh oleh penjaga pos. Mereka bilang nominal tersebut terlalu kecil. Mereka bahkan menyebut turis itu pelit.

Permintaan sejumlah uang selain biaya tiket yang cukup mahal dan disebut Poedji seperti pemerasan itu ternyata tak berhenti sampai di situ. Tak hanya petugas di pos yang membuat ulah, pemandu wisata juga melakukan hal yang sama.

Turis dipaksa menggunakan jasa pemandu wisata yang ada di lingkungan pura dan mematok harga yang cukup besar. Bahkan Poedji sempat menyaksikan seorang pemandu wisata mendorong dada turis karena menolak menggunakan pemandu.

"Kepada turis pemandu minta minimal US$20 atau hampir Rp260 ribu. Itupun dipaksa. Alasannya untuk tahu isi pura harus mereka pandu," kata Poedji.

"Nah kalau kita bawa sopir atau guide sendiri mereka tidak boleh ikut masuk. Belakangan baru saya tahu, kenapa driver saya ajak naik, enggak mau ikut. Rupanya ada semacam aturan pemandu harus dari pihak mereka," ujarnya.

Pengalaman yang sama juga pernah dirasakan oleh Ellen Piri, seorang wisatawan dari Jakarta. Jauh sebelum Poedji, yaitu ketika 2011 lalu. Ellen mengira praktik semacam itu sudah tidak ada lagi di Pura Besakih, tapi ternyata semua masih sama.

"Modusnya masih sama, alasan uang kebersihan. Tapi dipatok minimal Rp500 ribu, bahkan turis sebelum saya di kala itu, kena sampai Rp1 juta - 1,5 juta," kata Ellen kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Merasa tidak masuk akal, Ellen pun memberanikan diri untuk bertanya kepada petugas setempat terkait permintaan sejumlah uang yang nominalnya cukup besar. Padahal sebelumnya ia telah membayar tiket masuk dan uang untuk pemandu yang dibayar langsung, minimal Rp50 ribu.

"Mereka ngotot, katanya itu sudah aturan. Karena waktu itu saya emosi, saya minta bukti tanda retribusi dan saya ancam laporkan ke Kemenpar (Kementerian Pariwisata), mereka akhirnya membebaskan saya. Akhirnya saya isi juga list-nya tapi cuma Rp50 ribu," ujar Ellen yang mengaku memberikan uang dengan tidak ikhlas.

Jika ada aturan tertulis yang jelas, Ellen sebenarnya tidak akan mempermasalahkan permintaan sejumlah uang tersebut. Tapi, karena tidak ada aturan yang jelas dan resmi, dia pun menuntut kejelasan.

"Kalau ada aturan yang jelas seperti di Borobudur, misal turis lokal Rp25 ribu, dan turis asing US$25, itu clear, ya tidak masalah. Lha, di Besakih itu tidak jelas dan tidak resmi. Pemerasan namanya," kata dia.

"Masa iya wisata religi yang jadi trademark Pulau Dewata, pungutan tidak resminya seharga tiket Disneyland. Gila."

Sebelum mengunjungi Pura Besakih, Ellen mengaku sering ke tempat wisata religi lainnya. Menurut dia, penarikan sejumlah uang di Pura Besakih memang sudah keterlaluan.

Pasalnya di tempat lain, paling hanya dikenakan biaya tiket masuk saja. Penggunaan jasa pemandu pun tidak dipaksa. Tapi di Pura Besakih semuanya dipaksakan.

"Hanya ditagih tiket masuk dan enggak pernah lebih dari Rp20 ribuan. Enggak ada pungutan-pungutan lainnya kok. Ada juga kok tempat wisata yang enggak perlu guide kalau kita enggak mau. Nah, di Besakih itu, seperti dipaksa harus pakai guide," ujar Ellen.

Poedji dan Ellen hanyalah dua dari sejumlah orang yang merasa 'diperas' saat berkunjung ke Pura Besakih. Di media sosial juga banyak orang yang mengeluhkan hal yang sama.

Cerita tentang pungli di Pura Besakih sudah menyebar ke mana-mana dan dianggap mencemarkan pariwisata Bali.

Sempat Diboikot

Merasa pihak pengelola Pura Besakih yang notabene adalah warga sekitar melakukan tindakan semena-mena berupa pemungutan sejumlah uang yang cukup besar, Poedji mendapatkan cerita kalau sekitar dua tahun lalu destinasi tersebut sempat diboikot.

Menurut keterangan sopir mobil sewaan yang mengantarkannya, semua pemandu dan hotel di Bali sempat melarang turis asing ke Pura Besakih karena banyak pemerasan.

"Boikotnya sekitar 8 bulan. Petugas di wisata Besakih akhirnya menyetujui untuk tidak melakukan hal itu (pungli). Tapi ternyata terulang kembali," kata Poedji.

Hingga kini, pungli pun masih berlangsung di Pura Besakih. Entah sampai kapan. Poedji dan Ellen hanya berharap pemerintah setempat bisa menghentikan hal tersebut sehingga wisatawan bisa lebih nyaman dalam berkunjung. Dan pungli yang ada di Pura Besakih tak menjadi preseden buruk bagi pariwisata Bali.

"Sebagai orang Indonesia saya malu dan kecewa. Kok begini caranya cari rejeki. Memaksa dan memeras. Apalagi pemerasan di depan mata," ujar Poedji.

"Saran saya sih harga tiket dinaikkan, misalnya dari  Rp15 ribu jadi Rp25 ribu atau Rp50 ribu. Silakan dibagi, Pemda dapat berapa, banjar atau desa dapat berapa. Yang penting resmi. Jangan harga tiket resmi Rp15 ribu, tapi 'sumbangannya' malah meras," kata dia. (chs/chs)