Aksesori Pangkal Paha Menuai Kontroversi

Vega Probo, CNN Indonesia | Minggu, 27/03/2016 14:45 WIB
Aksesori Pangkal Paha Menuai Kontroversi Aksesori pangkal paha karya Soo Kyung Bae (Dok. TGAP Jewellery)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lazimnya, orang mengenakan aksesori untuk menghiasi telinga, leher, jemari, pergelangan tangan, pusar, dan mata kaki. Namun desainer asal Singapura Soo Kyung Bae memilih tempat yang tak biasa: pangkal paha.

Laman Dezeen mengabarkan, mahasiswa tingkat akhir National University of Singapore ini menyita perhatian—terutama kalangan fesyen—setelah meluncurkan aksesori thigh gap untuk mereknya, TGap Jewellery.

“TGap Jewellery mendesain aksesori khususnya untuk pangkal paha. Kami berfokus pada aksentuasi dan selebrasi jarak [antara kedua paha].” Demikian keterangan singkat yang tertera di website tgapj.com.


Idenya sendiri, sebagaimana disebutkan di laman tersebut, datang dari tren di media sosial yang memaksa kaum wanita dan gadis muda untuk lebih memperhatikan jarak antara kedua paha saat sedang berdiri.

Belakangan ini, banyak wanita muda, terutama di Barat, berlomba memamerkan bentuk pangkal paha ideal via akun media sosial.  Tidak sedikit juga yang mengisahkan kerja kerasnya untuk membentuk paha ideal.

Bagi Bae, gambaran imaji tubuh wanita di internet tidak realistis. TGap Jewellery hadir untuk “melawan” perdebatan soal ukuran tubuh yang dianggap tak adil bagi wanita. Aksesori dibuat untuk memberikan perhatian lebih.

“Jarak antara paha merepresentasikan salah satu dari sekian banyak tren yang digaungkan media berkaitan dengan tubuh ideal,” kata Bae kepada Dezeen. “Hal ini jelas menunjukkan kekuatan media untuk mempengaruhi persepsi orang soal imaji tubuh.”

Menurut Bae, perhiasan kreasinya membawa urusan “jarak antara paha” ke tingkat yang lebih serius. “Bila kita membiarkan media memopulerkan tubuh ideal yang tidak realistis, akankah kelak ini menjadi kenyataan?”

Setiap kreasi perhiasan Bae dibuat dari emas 18 karat dan dijual secara online via website. Toko online ini sengaja dibangun untuk menunjukkan kemampuan media dalam mempengaruhi orang untuk mengikuti tren.

Saat membuka website ini, otomatis muncul popup yang menggiring orang untuk mengetahui lebih jauh soal latar belakangan pembuatan koleksi perhiasan. Website-nya sendiri baru diluncurkan pada 22 Maret 2016.

Bae mengaku, menerima banyak komentar, dari yang terkejut, marah sampai bingung. Tapi adanya kisah latar belakang aksesori itu membuat orang mengapresiasi keinginan Bae agar mereka lebih memahami isunya.

“Dengan menggunakan produk yang tak biasa, saya harap bisa memandu kita untuk lebih berhati-hati dan merefleksikan apa yang kita suka,” kata Bae. Jangan sampai hal-hal ganjil malah membuat kita terobsesi dan tertekan.

“Seseorang bisa menggunakan perhiasan ini untuk berdebat dan merefleksikan diri, menjadi katalis bagi banyak orang agar mampu memposisikan diri sendiri,” kata Bae. “Saya harap hal ini menyadarkan banyak orang.”

Bagaimanapun, menurut Bae, segala keputusan ada di tangan masing-masing orang. Ia hanya berharap orang lebih berfokus pada diri sendiri, mencintai diri sendiri. Bukannya mengikuti standar tertentu yang tidak realistis.

Belakangan ini makin banyak desainer yang mengusung isu seputar imaji tubuh. Debora Dax mengkreasikan celana dalam dengan bulu pubis artifisial. Imme van der Haak mencetak foto orang-orang di karyanya yang bermaterial sutra.

Begitu juga boneka Barbie yang kini dibuat dengan berbagai tipe tubuh berbeda. Hal ini untuk menunjukkan keberpihakan terhadap keberagaman, dan tak lagi membuat standar ideal yang sama sekali tidak realistis.

(vga/vga)