Kulak Grikgik, Penganan 'Langka' dari Ogan Komering Ulu

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Sabtu, 16/04/2016 12:02 WIB
Kulak Grikgik, Penganan 'Langka' dari Ogan Komering Ulu Kuliner Kulak Grikgik hanya bisa ditemui setahun sekali di Kabupaten OKU Selatan, Sumatera Selatan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Biasanya jamur yang digunakan dalam masakan adalah jamur merang, tiram, atau kuping. Namun di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan atau OKU Selatan, Sumatera Selatan, terdapat jamur yang hanya didapatkan satu tahun sekali. Jamur unik itu dijadikan santapan lezat masyarakat sekitar, kulak grikgik namanya.

Kulak grikgik adalah nama makanan dengan bahasa setempat yang berarti jamur grikgik. Jamur grikgik ini mengacu pada sebuah jamur yang tumbuh di batang pohon yang mati dibakar ketika pembukaan lahan untuk pertanian.

Menurut Mida, pengelola booth Kabupaten OKU Selatan saat disambangi CNNIndonesia.com di Festival Pesona Kuliner Nusantara di Mall Artha Gading, jamur ini hanya ada satu tahun sekali di OKU Selatan ketika penduduk akan menanam pagi gogo atau padi darat.


“Jamur ini dinamakan grikgik karena bentuk tepiannya yang bergerigi,” kata Mida.

Jamur grikgik berwarna hitam, memiliki bentuk seperti kipas, namun dengan ukuran yang kecil. Meski mirip, namun jamur ini bukanlah jamur kuping yang juga tumbuh di kayu mati.

Oleh masyarakat setempat, jamur yang pada beberapa daerah lainnya di Indonesia dinamakan grigit ini, biasanya diolah menjadi kulak grikgik sebagai penganan cemilan ataupun lauk teman nasi.

Cara membuat kulak grikgik pun sederhana, hampir mirip dengan membuat perkedel kentang. Jamur grikgik ditumbuk hingga lumat. Kemudian jamur dicampur dengan bumbu seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, garam, dan penyedap rasa.

Setelah dicampur, kemudian adonan dibentuk sesuai selera dan ditambahkan telur kocok. Pemberian telur ini supaya adonan jamur tetap menyatu ketika dimasak. Adonan jamur yang sudah dibentuk lalu dikukus selama sepuluh menit, setelahnya dapat langsung disantap atau digoreng.

Rasa kulak grikgik hampir tidak serasa seperti jamur, meski memiliki tekstur yang kenyal ciri khas jamur. Selain dari rasa ketumbar dan pedas bawang yang cukup kuat, rasa jamur grikgik terasa seperti arang, namun tetap segar dan lezat.

"Rasa arang itu datang karena jamurnya tumbuh di kayu yang mati dibakar. Makanan ini hanya dapat dibuat dari jamur itu, tidak ada penggantinya. Jamur ini termasuk langka dan mahal," kata Mida.

Menurut Mida, di OKU Selatan sendiri jamur ini sehari-hari dijual dalam bentuk segar seharga Rp100 ribu per kilogram. Harga yang tinggi karena jamur ini tak tumbuh dengan bebas. Jamur ini juga belum dibudidayakan seperti jamur tiram.

Namun Mida menjelaskan, saat panen, harga jamur ini turun menjadi Rp40 ribu per kilogram. Saat harga turun itulah, masyarakat biasanya membeli borongan dan menyimpannya hingga satu tahun kemudian.

"Biasanya butuh 250 gram jamur untuk sebuah keluarga kecil, jadinya sekitar 10 atau 15 butir. Jadi kalau dijual, porsi kecil jamur ini seharga Rp12,5 ribu,” kata Mida.

Selain jadi sajian kuliner khas, jamur unik ini juga "diabadikan" dalam kain tradisional. Motif jamur grikgik hadir di kain pedandanan dari suku Ranau di OKU Selatan. Kain yang dipasang di dinding ketika ada upacara adat itu memiliki ornamen berbentuk rumbai dari benang emas yang menggambarkan jamur grikgik. (les)