Cegah HIV/AIDS, Lokalisasi Sintai Hadirkan ATM Kondom

Aghnia Adzkia, CNN Indonesia | Jumat, 22/04/2016 13:25 WIB
Cegah HIV/AIDS, Lokalisasi Sintai Hadirkan ATM Kondom Di Lokalisasi Sintai, Batam, disediakan ATM Kondom untuk mengampanyekan seks aman dan mencegah penyebaran HIV/AIDS. (Thinkstock/Kai_Wong)
Jakarta, CNN Indonesia -- Automatic Teller Machine (ATM) kondom dinilai menjadi solusi pencegahan penularan HIV dan AIDS. Di mesin otomatis ini, pembeli dapat memasukkan lembaran uang ribuan dan dengan sendirinya kondom akan keluar.

"Di Batam, ATM kondom masih ada di lokalisasi Sintai. Masukkan uang Rp1.000 keluar kondom tiga," kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota Batam, Sri Rupiati, ketika ditemui di Batam, Kamis malam (21/4).

ATM ini dirasa bisa menekan laju penularan penyakit menular seksual di kalangan Pekerja Seks Komersial (PSK). Menurut data Dinas Kesehatan Batam, lebih dari 50 persen dari total 641 orang pengidap HIV pada tahun 2015 adalah PSK. Sementara itu, kalangan lainnya yakni pelanggan PSK yang kebanyakan dari mereka adalah pekerja perusahaan di kota industri ini.


“Di Batam banyak perusahaan dan pekerja tidak bawa istri. Itu ada pekerja perusahaan galangan kapal, elektronik, dan lainnya," kata Sri.

Lebih jauh, total pengidap HIV di Batam meningkat dari tahun sebelumnya yang tercatat berkisar pada angka 500. Peningkatan ini selaras dengan pendataan yang meluas termasuk ibu rumah tangga dan remaja. Dalam pendataan pengidap HIV, Dinkes mengakui dibantu oleh pegiat sosial dari tujuh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Dinkes Batam mengklaim penjaringan ini dilakukan untuk memberikan terapi kepada orang yang terjangkit HIV dan AIDS. Para pengidap penyakit ini diberi obat dan direhabilitasi.

"Hasil yang signifikan dari rehabilitasi adalah masa jendela lebih panjang. 1992-1996 tidak lebih dari lima tahun usia harapan hidup penderita HIV/AIDS dan sekarang bergeser 10-15 tahun," ucapnya.

Selain memberi terapi, mereka juga mencanangkan program Tutup Pintu yang ditargetkan berhasil membersihkan Batam dari HIV dan AIDS pada 2020 mendatang. "Akses layanan didekatkan dan obat dipastikan ada. Kalau Kemenkes cuma tanggung 40 persen dari Rp600 juta biaya penyebaran HIV, ada pakai APBD," sambung Sri.

Merujuk data Kementerian Kesehatan, sebanyak 30.935 orang terjangkit HIV dan 6.081 orang terserang AIDS pada tahun 2015. Sepanjang 10 tahun, ini adalah angka tertinggi kedua penyakit. Tahun sebelumnya, jumlah penderita HIV dan AIDS yakni masing-masing 32.711 orang dan 7.875 orang. (les)