Wajah dan Harapan Baru Museum Nasional Indonesia

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Minggu, 24/04/2016 14:43 WIB
Wajah dan Harapan Baru Museum Nasional Indonesia Museum Nasional (Gunawan Kartapranata/Wikipedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada yang baru bila berkunjung ke Nasional Indonesia atau Museum Gajah. Menjelang usia tiga abad, museum utama Indonesia ini menuju era modern dioperasikannya gedung baru.

Hal ini terlihat dari terbukanya akses masyarakat masuk ke gedung B yang merupakan gedung baru Museum Nasional Indonesia (MNI) sehabis acara tari bersama secara massal atau flash mob tari pendet, Sabtu (23/4). Flash mob merupakan pembuka dari rangkaian perayaan 238 tahun MNI yang genap berulang tahun pada Minggu (24/4).

Gedung baru atau gedung B itu menjadi sasaran pengunjung dan peserta flash mob untuk beristirahat, beberapa ada yang penasaran dan menjajal menjelajah gedung empat lantai itu.


Suasana berbeda terasa ketika masuk gedung B yang mulai dibuka pada perayaan ulang tahun MNI tahun lalu itu. Unsur modern dan lebih informatif sangat terasa di gedung ini bila dibandingkan gedung lama, atau gedung A.

Museum Nasional memiliki beberapa gedung. Gedung A yang tepat berada di belakang patung Gajah adalah peninggalan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenscappen, lembaga pendidikan dan kebudayaan Hindia-Belanda. Gedung ini menjadi cikal bakal MNI.

Selama lebih dari dua abad gedung Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenscappen digunakan sebagai museum. Beberapa tahun terakhir, MNI mengembangkan diri dengan bantuan dana pemerintah sebesar Rp131 Miliar. Uang itu digunakan untuk beragam keperluan, termasuk perluasan wilayah dan pembangunan sebesar Rp98 Miliar.

MNI berencana menambah dua gedung baru, yaitu B dan C. Dua gedung ini akan berfungsi sebagai 'rumah' untuk 140 ribu artefak sejarah bangsa Indonesia dan pusat kegiatan pendidikan museum. Ini diperlukan karena gedung lama yang butuh renovasi akibat lapuk terkikis masa.

"Jadi nanti kami berencana akan membuka gedung baru yaitu gedung B. Gedung C dalam proses penyelesaian. Tahun ini rencananya Gedung A akan ditutup untuk renovasi dan perbaikan semua aspek," kata Intan Mardiana, kepala Museum Nasional Indonesia (MNI) saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Sabtu (23/4).

"Kami menargetkan satu juta pengunjung tahun ini, entah tercapai atau tidak yang penting usaha dahulu. Kami juga selain memperbaiki secara fisik, juga kami memperbaiki manajemen, lalu program." kata Intan.

Kini gedung B yang diresmikan tahun lalu telah seutuhnya siap menerima pengunjung. Gedung ini pun dilengkapi informasi dan diorama untuk memudahkan pengunjung mengenal benda sejarah lebih banyak.

Penataan di gedung B ini pun cukup lega dan layak bagi artefak yang telah berusia berabad-abad. Lupakan kenangan ketika bertandang ke MNI semasa di gedung A, gedung kuno dengan penuh barang kuno hingga hampir seperti toko antik.

Eskalator dan elevator memudahkan pengunjung untuk berpindah menjelajahi empat lantai gedung B dengan mudah. Ruangan yang lega pun menjadi sasaran anak-anak riang gembira menikmati koleksi museum dan pelajar untuk mengerjakan tugas tanpa menjadi ancaman bagi artefak karena terlindung dengan cukup baik.

"Senang sekali main ke museum, banyak yang bisa dilihat," kata Nikita dan Nayla kepada CNNIndonesia.com. Nikita dan Nayla adalah sepasang gadis tujuh tahun yang gembira berlarian di museum sembari melihat-lihat benda kuno.

"Saya baru pertama kali ke sini," kata Yuri, seorang wanita asal Kemayoran yang datang mengantar anaknya ikut flash mob tari pendet di pelataran museum. "Saya tahunya dari sosial media kalau ada flash mob, karena anak saya mau ikut jadi saya antar ke museum. Dan ternyata bagus ya museumnya, publikasinya di media sosial juga cukup kok."

Yuri terlihat cukup kagum dengan keberadaan dan isi gedung baru ini. Dengan empat lantai yang punya tema berbeda-beda, gedung B memang menawarkan peluang menjelajah lebih mudah.

Lantai pertama diisi oleh tema manusia dan lingkungan, termasuk berbagai jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia. Pun dilengkapi dengan gambaran kehidupan secara riil, museum ini mencoba menegaskan pentingnya Indonesia sebagai salah satu pusat kehidupan manusia lampau.

Lantai kedua merekam kejayaan peradaban ilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia di masa lalu. Terdapat beragam artefak yang menunjukkan intelegensi masyarakat Indonesia kuno, mulai dari prasasti sebagai bukti literasi kuno hingga senjata dan alat sehari-hari.

Naik ke lantai ketiga, pengunjung dapat mempelajari sistem kelembagaan sosial yang sudah ada di Indonesia sejak dahulu kala. Mulai dari urusan pertanian hingga maritim telah membuktikan bahwa Nusantara punya peradaban maju di eranya. Di lantai empat berisikan koleksi emas dan keramik, untuk mengakses lantai ini tidaklah sembarangan seperti mengakses tiga lantai lainnya.

"Terasa sih gedung barunya, ini baru yang pertama kali ke sini. Penataannya bagus dan artistik sekali. Saya sayangnya belum pernah ke gedung lama, tapi saya ingin sekali datang lagi apalagi sudah banyak acara yang diadakan," kata Siti Aisyah yang sedang asik melihat-lihat koleksi museum.

"Untuk publikasi sebenarnya sudah cukup dan sekarang kan eranya sosial media jadi orang cukup follow Museum Nasional sudah dapat semua informasi," kata Siti.

Pendapat tak jauh berbeda juga datang dari seorang warga asing asal Belgia B Hubert. Dia merasa mendapat kemudahan mengenal Indonesia lebih dalam dari penyajian informasi dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

"Kalau bisa ini dilengkapi wahana yang interaktif dengan pengunjung, karena beberapa orang senang menggunakan alat tersebut. Jadi orang lebih mudah dalam mempelajari sejarah dan yang tersaji di sini," kata Hubert.

Dengan kehadiran gedung baru dan rencana perbaikan yang digadang oleh manajemen MNI, menjadi sebuah harapan baru untuk semakin merangkul masyarakat Indonesia mengenal dan cinta akan budayanya sendiri. Bila tidak, maka akan semakin banyak budaya bangsa yang 'dicomot' oleh bangsa lain karena tak dikenal oleh pemiliknya sendiri. (chs/chs)