Benarkah Makanan Berlemak Cegah Penambahan Berat Badan?

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Rabu, 25/05/2016 07:14 WIB
Sebuah laporan kontroversial menyebut makan lemak jenuh tak akan menyebabkan gemuk. Sebuah laporan kontroversial menyebut konsumsi makanan berlemak tak menyebabkan gemuk. (Thinkstock/Brenda A. Carson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Label rendah lemak (low-fat), tanpa lemak (no-fat), dan kurang lemak (reduced-fat) telah jadi pokok makanan kemasan yang dipasarkan kepada mereka yang berupaya mendapatkan bentuk tubuh lebih baik.

Namun berdasarkan organisasi kesehatan yang cukup vokal, menyusul diet rendah lemak yang dapat membawa ke “konsekuensi bencana kesehatan.”

Sebuah laporan terbaru oleh Forum Obesitas Nasional Inggris dan Kolaborasi Kesehatan Masyarakat di Inggris menyerukan “perbaikan besar-besaran” atas pedoman diet saat ini. Dia menuduh badan-badan kesehatan masyarakat besar berkonspirasi dengan perusahaan-perusahaan makanan dan menjadi “rusak oleh pengaruh komersial,” seperti dilaporkan The Independent dan dilansir Food and Wine.


Perubahan saran diet untuk mempromosikan makanan rendah lemak kemungkinan kesalahan terbesar dalam sejarah medis modern,” ujar Dr. Aseem Malhotra, penasihat senior kepada Forum Obesitas Nasional. “Kita harus segera mengubah pesan ke masyarakat untuk membalikkan obesitas dan diabetes tipe 2. Makanlah lemak agar langsing, jangan takut lemak, lemak adalah kawan kita. Sekarang saatnya mengembalikan lemak.”

Ada daftar panjang yang menentang argumen tersebut, di antaranya pernyataan bahwa mengkonsumsi lemak tidak membuat kita gemuk, lemak jenuh tidak menyebabkan sakit jantung, makanan olahan yang dilabeli “rendah lemak” atau “rendah kolesterol” harus dihindari, karbohidrat tepung dan halus mesti dikurangi, konsumsi gula optimal adalah nol, dan kita harus berenti sama sekali menghitung kalori.

Ada sedikit keraguan bahwa ilmu gizi mulai sudah mulai cenderung, jika bukan berempati, kepada arus umum ini. Namun demikian, banyak ahli kesehatan, termasuk kepala ahli gizi Kesehatan Masyarakat Inggris, Dr. Alison Tedstone, mengkritisi komentar grup itu. Dia menyebut saran untuk makan lemak lebih banyak adalah tak bertanggung jawab dan berpotensi mematikan.

Menurut BBC News, Tedstone merespon laporan ini. “Seruan bagi masyarakat untuk makan lebih banyak, memangkas karbohidrat, dan mengabaikan kalori adalah tidak bertanggung jawab.”

Dia juga mencatat, sementara laporan Forum Obesitas Nasional menyebut hanya 43 studi, pedoman gizi resmi yang diterapkan di seluruh Inggris diambil dari ribuan studi ilmiah.

“Berbahaya bagi kesehatan nasional ketika suara berpengaruh secara potensial menyarankan orang untuk makan diet tinggi lemak, khususnya lemak jenuh,” kata Tedstone.

Selain Tedstone, reaksi juga muncul dari komunitas ilmiah. Royal Society for Public Health juga mengkritisi laporan tersebut, menyebutnya sebagai “manifesto kacau tentang pernyataan yang asal-asal, menggeneralisasi, dan berspekulasi.

Jadi, mungkin sekarang bukan waktunya untuk benar-benar membuang kalori dan makan makanan tinggi lemak sepuas-puasnya. Namun di sini ada sesuatu yang disetujui semua orang, bahwa makan makanan apapun dalam jumlah sedang kemungkinan tak akan membunuh Anda. (sil/sil)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK