Muhammad Ali dan 32 Tahun Perjuangan Melawan Parkinson

Lesthia Kertopati & Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Sabtu, 04/06/2016 13:41 WIB
Muhammad Ali dan 32 Tahun Perjuangan Melawan Parkinson Muhammad Ali dan putrinya, Laila Ali. (Michael Hickey/Getty Images for HBO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Petinju legenda Amerika Serikat, Muhammad Ali, meninggal dunia pada Jumat (3/6) waktu setempat di rumah sakit di Phoenix, Arizona, Amerika Serikat. Dia meninggal karena masalah pernapasan.

Tapi, perjuangan panjang Ali justru bukan melawan gangguan pernapasan. Usai pensiun dari dunia tinju, tokoh legendaris itu divonis menderita parkinson, ‘musuh bebuyutan’ di luar ring.

Total, 32 tahun Ali hidup bersama Parkinson. Dia tidak membiarkan penyakit degeneratif itu menggerogoti tubuhnya. Ali tetap aktif dan kerap tampil di berbagai acara internasional.


Oleh karena itu, Ali didapuk menjadi duta parkinson oleh American Parkinson Disease Association.

"Tidak mementingkan diri sendiri dan keberanian, adalah dua hal yang dicontohkannya," kata Leslie Chambers, presiden dan CEO American Parkinson Disease Association, dikutip New York Daily News. 

Chambers mengatakan Ali memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran tentang penyakit saraf yang tidak dapat disembuhkan itu.

"Dia kembali menarik perhatian penduduk Amerika Serikat dengan penyakit ini," kata Chambers. "Kami sangat berterimakasih kepada Ali. Dalam jangka panjang, dia membantu masyarakat dengan cara yang luar biasa.”

Saat didiagnosis mengidap Parkinson pada 1984, Ali baru berusia 42 tahun. Vonis itu datang tepat tiga tahun setelah ia memutuskan pensiun. Kendati tetap kuat, parkinson perlahan menurunkan kondisi petinju yang semula bernama Cassius Clay ini.

Orang terdekat Ali melihat bahwa pidato yang dia sampaikan mulai 'cadel' dan respon tubuhnya semakin lambat, sebelum pertarungan terakhirnya pada tahun 1981.

Kemudian, 10 tahun setelah itu, Ali tampil di acara talkshow ‘Today Show’ bersama Bryant Gumbel di jaringan televisi NBC. Disitulah semua orang mengetahui betapa berat perjuangan Ali.

Hilang sudah senyum ‘mega-watt’ yang selalu menghias wajahnya. Kata-kata pun sulit terlontar dari bibir Sang Legenda Tinju. Tapi, Ali tidak kenal kata kalah. Dia terus melanjutkan wawancara.

“Tidakkah itu mengganggu ketika orang-orang berkata Anda harusnya mengaku sakit lebih cepat, akibat semua pukulan yang Anda terima?” tanya Gumbel, waktu itu.

“Jika saya melakukan itu, sekarang saya tidak akan melakukan wawancara ini dengan Anda,” kata Ali, tegas.

Parkinson pun tidak menghalangi Ali untuk menyalakan api olimpiade musim panas di Atlanta, pada 1996. Dengan tangan gemetar dan langkah yang tertatih, Ali sukses melakukan tugasnya, dibarengi tepuk tangan gemuruh dan sorak sorai dari seluruh penonton.

“Itu momen langka. Momen yang penuh haru dan juga menunjukkan jiwa besar seorang Muhammad Ali,” tulis kolumnis Baltimore Sun, Ken Rosenthal. “Anda tidak tahu harus menangis atau bersorak. Anda hanya bisa menonton dan kembali jatuh hati pada Muhammad Ali.”

Setelah itu, kondisi kesehatan Ali terus memburuk. Dia semakin jarang tampil di hadapan publik. Tapi, dua bulan lalu, Ali kembali tampil di Celebrity Fight Night, acara galang dana bagi para penderita Parkinson di Phoenix.

Dia mengenakan kacamata hitam, tubuhnya yang dulu kekar, kini bungkuk. Dia tidak mengatakan apapun.

Tapi, dia tetap mendapatkan penghormatan tertinggi dari seluruh undangan yang hadir. (les)