Industri Pizza Jadi Biang Polutan Udara

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Rabu, 22/06/2016 22:54 WIB
Industri Pizza Jadi Biang Polutan Udara Ilustrasi. (Thinkstock/grafvision)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masyarakat modern kini lebih banyak menggunakan kompor gas untuk memasak, cara ini dirasa lebih efektif. Meski demikian, tak sedikit masyarakat di berbagai daerah yang masih memasak dengan kayu bakar.

Memasak dengan cara tradisional menggunakan kayu bakar ini, dipercaya selalu menghadirkan aroma dan cita rasa yang lebih lezat dibanding dengan cara konvensional. Penggunaan cara tersebut bertujuan untuk menyuguhkan sajian berbeda, mengunggulkan cita rasa khas, atau menjalani hal yang telah turun temurun dilakoni.

Pizza adalah salah satu panganan yang kerap dipilih pebisnis untuk tetap dimasak dengan cara tradisional, yaitu menggunakan oven pembakaran kayu. Sayangnya, meski menghasilkan cita rasa lebih lezat, cara tersebut kini dianggap telah membawa pengaruh buruk untuk lingkungan.


Asap pembakaran yang dihasilkan menimbulkan polusi udara.

Menurut Daily Mail, sebuah penelitian ilmiah telah menemukan bahwa polusi di kota besar seperti di Sao Paulo, Brasil, masih sama tingginya meski telah mengurangi emisi mobil.

Pemimpin penelitian dari University of Surrey, Dr Prashant Kumar, mencari sumber-sumber emisi dari hal yang tidak akan terpikir oleh orang-orang.

Kumar dan timnya menemukan bahwa polusi tinggi ini berasal dari tungku kayu bakar yang digunakan untuk pizza, yang kini telah ‘mendarah-daging’ guna memasak makanan populer ini.

Dilansir dari Uproxx, asap dari kayu yang masuk ke udara dan mengalami proses kimia menjadi polutan sekunder berbahaya seperti ozon dan aerosol, terutama di kawasan perkotaan.

Hal ini yang kemudian menjadi masalah utama kota Sao Paulo, kota yang begitu padat dan memproduksi sekitar satu juta pizza setiap harinya untuk dimakan langsung atau bawa pulang.

Dengan kata lain, warga Sao Paulo ‘mengorbankan’ lingkungan setiap kali mereka menyantap pizza.

Di sisi lain, temuan ini diharapkan bisa menjadi dasar pengujian bagi kota-kota besar lainnya. Pemerintah pun harus waspada dan mencari cara mengurangi emisi dari sumber tak terduga, yang selama ini hanya dibebankan pada asap kendaraan. (les)