Lawan Kanker Mulut dengan Brokoli dan Kembang Kol

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Kamis, 30/06/2016 10:20 WIB
Lawan Kanker Mulut dengan Brokoli dan Kembang Kol Brokoli merupakan salah satu jenis makanan yang bisa menangkal kanker. (Thinkstock/Olha_Afanasieva)
Jakarta, CNN Indonesia -- Brokoli, kubis, dan kembang kol ternyata tidak hanya sehat dan nikmat disantap. Sayuran jenis Brassicaceae atau Cruciferous itu tinggi antioksidan dan sanggup melawan kanker mulut.

Kemampuan brokoli dan kubis tersebut ditemukan dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Cancer Prevention Research dan dipimpin oleh Julie Bauman dari University of Pittsburgh Medical Center (UPMC) Cancer Center di Pennsylvania, Amerika Serikat.

Penelitian tersebut terinspirasi dari usaha medis sebelumnya dalam melawan kanker mulut. Menurut Oral Cancer Foundation, ada pertambahan 640 ribu kasus kanker mulut baru setiap tahun di dunia.


Pasien kanker mulut biasanya diobati dengan cara operasi, radiasi dan kemoterapi. Namun usaha ini dianggap menyakitkan dan menguras biaya. Dan menurut Bauman, usaha tersebut tidak efisien, sehingga ia mulai berinisiatif menggunakan metode bernama green chemoprevention atau terapi kemoterapi hijau.

Green chemoprevention merupakan pengembangan perawatan kanker menggunakan manfaat tanaman yang mengandung antioksidan, guna melawan karsinogen dari lingkungan. Pada sayuran Brassicaceae seperti brokoli, kandungan sulforaphane telah diyakini beberapa penelitian dapat melindungi manusia dari paparan karsinogen.

Mengutip laman Medical News Today, penelitian yang dilakukan Bauman terdiri dari beberapa percobaan. Pertama, ia meneliti sel kanker yang ada di pasien serta sel pada orang sehat, lalu mencoba memberikan sulforaphane dalam beberapa dosis.

Hasil uji pertama menunjukkan sulforaphane mendorong sel kanker ataupun sehat menghasilkan protein tertentu yang mengaktifkan gen khusus pengurai karsinogen pelindung sel dari kanker.

Pengujian berikutnya, ia meminta 10 sukarelawan baik penderita kanker ataupun sehat untuk mengonsumsi ekstrak atau jus brokoli selama beberapa hari dan diamati.

Hasil pengujian kedua menunjukkan terdapat perubahan berupa munculnya gen pelindung yang mirip dengan percobaan pertama di mulut para sukarelawan. Para peneliti beranggapan, sulforaphane diserap oleh tubuh dan fokus pada jaringan berisiko.

Pengujian terakhir dilakukan pada tikus yang menderita kanker mulut dan leher. Hasil menunjukkan tikus yang diberikan ekstrak brokoli memiliki perlambatan perkembangan kanker dibandingkan tikus yang tidak diberi ekstrak sayuran.

Kini, Bauman dan tim tengah melakukan uji klinis lebih lanjut pada pasien yang telah sembuh dari kanker dan diberi tablet berisi bubuk brokoli. (les)


BACA JUGA