Laporan dari Paris

Ketika Nafas Konservatif Berjumpa Romantisme Sembrono

Fandi Stuerz, CNN Indonesia | Selasa, 12/07/2016 14:05 WIB
Ketika Nafas Konservatif Berjumpa Romantisme Sembrono Koleksi musim panas untuk mode pria Lanvin kali ini, menandai sepuluh tahun karya sang desainer, Lucas Ossendrijver. (Pascal Le Segretain/Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Paris Men's Fashion Week, sebuah ajang menampilkan koleksi terbaru para desainer yang berbasis di Paris, menjadi rutinitas dua kali setahun dimana para fashionista dari seluruh dunia berkumpul untuk mencari (dan menentukan) tren mode pria terbaru.

Penuh dengan pria-pria dandy berbalut setelan bespoke serta deretan sepatu brogue dan oxford berbahan kulit yang dipoles mengkilat, menswear fashion week memang terasa lebih rileks dibandingkan dengan womenswear. Selain karena kamus mode pria memuat lebih sedikit perbendaharaan kata, para pria lebih cenderung terlihat tidak ambil pusing dalam menentukan pakaian mereka.

Berbeda dengan Jakarta Fashion Week, Paris Fashion Week tidak memiliki tema tunggal tertentu, karena masing-masing desainer bekerja secara autonom dalam menentukan mood koleksi mereka. Lokasi show pun tidak berpusat di satu lokasi, melainkan tersebar di penjuru kota.
Koleksi busana pria Lanvin di Pekan Mode Paris. Ada kesan rebel yang dikemas secara romantis dalam koleksi Lanvin kali ini. (Pascal Le Segretain/Getty Images)
Sebuah strategi jitu dalam mendongkrak pariwisata terutama sektor perhotelan dan gastronomi, mengingat sebuah show bisa saja berada di hotel berbintang di pusat kota sementara show di jam berikutnya diadakan di hôtel particulier - rumah pribadi berukuran besar- yang tersembunyi, yang 'memaksa' para buyer dan editor berkeliling kota sepanjang hari.


Salah satu dari show selama fashion week yang digelar akhir Juni lalu adalah Lanvin. Di panggung Paris, Lanvin menampilkan romantisme namun dalam kemasan yang 'sembrono'.

Dalam sejarah fashion, Lanvin adalah salah satu rumah mode tertua yang masih beroperasi hingga kini (Lanvin didirikan oleh Jeanne Lanvin di tahun 1889).

Lini mode pria milik Lanvin pun diakui khalayak sebagai salah satu penentu tren, terbukti di tahun 2013, Lanvin mendesain seragam resmi klub bola asal Inggris, Arsenal FC, dan Loris Karius, pemain Liverpool F.c. nampak duduk di barisan depan di show kali ini, bersanding dengan Gabriel Kane, anak dari aktor Holywood Daniel Day-Lewis.

Koleksi musim panas untuk mode pria kali ini, menandai sepuluh tahun karya sang desainer, Lucas Ossendrijver.

"Sebuah dunia yang aneh, dan kita sedang hidup di dalamnya. Banyak hal yang porak-poranda, dan kebebasan menjadi hal penting ketika kekacauan melanda", ujar Lucas setelah show berakhir.

Spirit yang dibawa Lucas kali ini memang sedikit sembrono. Terlihat jelas bagaimana jahitan mentah yang sengaja terlepas, syal yang robek dan jaket kedodoran. Mantel nilon dan resleting yang dibiarkan terbuka serta motif-motif gelap layaknya Gotham City serta elemen-elemen dekonstruksi menyiratkan mood kelam nan misterius.

Simbol panah muncul di ikat pinggang dan kalung, dan bagian bawah kemeja yan dibiarkan menjuntai keluar, memberikan sinyal urgensi dan sebuah pergerakan.

"Semuanya dibiarkan tidak tertutup", lanjut Lucas, yang menampilkan kemeja terbuka lebar, pakaian berlapis-lapis dan semuanya tidak dikancingkan.

Lucas bercerita bahwa inilah reaksi terhadap hiruk-pikuk dunia yang semakin menjadi-jadi.

Hal ini menjadi menarik ketika Bouchra Jarrar, desainer untuk womenswear yang baru setelah kepergian desainer Alber Elbaz, duduk di barisan depan bersebelahan dengan Shaw-Lan Wang, taipan media asal Taiwan sang pemilik Lanvin.

Bouchra Jarrar akan menampilkan karya perdananya bulan Oktober mendatang, dan kesederhanaan ala Bouchra yang termasyhur itu mungkin akan menjadi penyeimbang.

Kesan sporty namun berantakan tampaknya menjadi poin penting, dan penuhnya model-model ceking menyiratkan bahwa koleksi ini memang diperuntukkan bagi generasi muda rebel yang penuh kebebasan.

Desainer Rumah Mode Lanvin Lucas Ossendrijver memberi hormat usai mempertunjukkan koleksinya di Paris Fashion Week Menswear. (Pascal Le Segretain/Getty Images)

Konsistensi Konservatif Hermès 


Sebagai salah satu merk fesyen berkelas premium, Hermès mengadakan empat show per tahun, masing-masing 2 show untuk mode pria dan wanita.

Rumah mode Hermès yang hampir berusia 180 tahun itu dimulai oleh keluarga Thierry Hermès saat mereka memproduksi perlengkapan kuda seperti tali kekang dan sadel.

Kini, dengan kapasitas bisnis Hermès yang diperkirakan mencapai 4,8 milliar Euro, tak heran bila koleksi terbarunya akan selalu menjadi rujukan untuk mencari dan menentukan tren mode pria terbaru. Padahal, porsi dari lini siap pakai hanya sekitar 23 persen dari bisnis mereka. Bagian terbesar, sebanyak 47 persen datang dari produk kulit seperti aksesori dan peralatan berkuda.

Sang desainer, Véronique Nichanian, yang sejak 28 tahun terakhir mendesain lini mode pria untuk Hermès, begitu lihai memainkan elemen-elemen yang memiliki asosiasi kuat dengan Hermès yakni kulit dan sutera, menjadikannya salah satu desainer terlama yang mendesain di satu rumah mode saja.

Show Hermès berlokasi di Biara Cordeliers, sebuah tempat dimana Société des Amis des droits de l’homme et du citoyen (Perhimpunan Sahabat Hak-hak Asasi Manusia dan Warga Negara), yakni sebuah klub populis di masa Revolusi Prancis, mengadakan pertemuan. Dengan bangunan khas kota Paris yang klasik serta sepetak kebun bunga, lokasi ini sangat tepat untuk dijadikan latar dari show Hermès yang tradisional.

Ketika dinamika tren lebih mengarah pada simplifikasi dan fungsionalitas, Hermès menjadi sebuah contoh yang baik dalam mempertahankan nilai-nilai konservatif yang kental dengan tidak terlalu banyak perubahan yang fundamental.

Memberi rasa aman bagi para konsumen setia dari sebuah strata masyarakat yang sangat spesifik dari musim ke musim sangatlah sulit, dan variasi ekstrim pada siluet atau potongan akan terlalu riskan. Yang tersisa hanyalah sebuah kemungkinan akan teknik dan warna baru.

Hermès menyebut warna-warna baru seperti kuning belerang, silex, baobab, dan merah jambu Tyrian. Teknik Tie-dye atau ikat celup, sebuah teknik pewarnaan yang sebenarnya bukanah hal baru, juga digunakan.

Di Indonesia, teknik ini banyak dipakai untuk mewarnai kaos-kaos pantai, yakni dengan mengikat kain sebelum dilakukan pencelupan. Hermès menggunakannya untuk blus-on serta kardigan rajut berbahan sutera.

Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah sepotong kardigan berbahan kulit domba dengan detail topstitch yang dibalut dengan pulover berkerah lebar berbahan linen dan kasmir bergaris. Koleksi ini dipasangakn dengan celana katun.

Tampilannya memang terlihat datar di laman media sosial. Imaji sepotong kaos putih berbahan katun mouliné, mantel hujan dengan cetakan 3 dimensi, serta kemeja sutera bermotif Le Jardin de la Maharani atau Feuille en carré tentu tidak bisa bicara banyak.

Ketika kualitas material seperti wool, kulit suede, berbagai macam modifikasi katun seperti serge, poplin, covert, dan jacquard menjadi andalan, sangat sulit untuk menerjemahkan sebuah koleksi hanya secara visual, karena sweatshirt berbahan kombinasi kulit-karet misalnya, atau bluson dengan cetakan Ex-Libris en camouflage, hanya bisa dirasakan dengan sentuhan.

Pakaian-pakaian seperti inilah yang memegang peranan yang sebenarnya akan fashion. Ia memiliki nilai, bisa dinikmati, dan benar-benar bisa dipahami, ketika dikenakan. (les)