Indonesia Belum Siap Punya Industri Adibusana

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Kamis, 12/05/2016 15:32 WIB
Indonesia Belum Siap Punya Industri Adibusana Model memperagakan busana karya Sebastian Gunawan dalam peragaan busana bertema Moon Dance. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebastian Gunawan jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap fesyen di usia 14 tahun. Rasa cinta itu ia salurkan dalam bentuk sketsa dan gambar. Ingin lebih serius mendalami fesyen, Seba, sapaan akrab Sebastian, memilih belajar di sekolah mode.

Seba merupakan alumni Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budiharjo, The Fashion Institute of Design and Merchandising, Los Angeles, USA serta Institute Artistico Dell Abbigliamento, Marangoni, Milan, Italia.

Kerja keras Seba berbuah manis. Pada 1993, dia mendirikan rumah modenya sendiri, yang terus langgeng dengan berbagai lini busana seperti lini made-to-order Sebastian Gunawan, lini ready-to-wear Sebastian Red, lini sekunder Votum dan lini busana pengantin, Sebastian Sposa.


Lebih dari 20 tahun berkiprah di dunia mode Indonesia, Seba tidak lantas berpuas diri. Dia terus berupaya mempertahankan eksistensi lewat fashion show tunggal yang digelar dua kali setahun, selain itu dia juga tekun mendulang prestasi.

Terbukti dari titel terbaru yang diraih Seba, yakni Asian Couturier Extraordinaire, gelar kehormatan yang secara eksklusif diberikan oleh Asian Couture Federation, asosiasi perancang adibusana Asia. Beberapa nama terkenal lainnya yang juga memegang titel Asian Couturier Extraordinaire adalah Guo Pei dari China dan Lie Sang Bong dari Korea Selatan.

Tahun ini, langkah Seba mendunia semakin dekat. Juli mendatang, ia diundang mempersembahkan karya-karyanya di Haute Couture Week, Paris, Prancis.

"Haute Couture Week merupakan momen puncak yang diimpikan oleh banyak desainer adibusana, dan saya merasa terhormat diberikan kesempatan mempertunjukkan karya di kota yang menjadi kiblat high fashion ini," kata Seba kepada CNNIndonesia.com, belum lama ini.

Dalam industri fesyen, haute couture adalah level tertinggi penciptaan busana. Tidak sembarangan orang bisa mempertunjukkan koleksi mereka di panggung Paris Haute Couture.

Kehadiran Seba di Haute Couture Week tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia. Tapi, Seba mengatakan, Indonesia belum siap menangani haute couture dari segi industri.

“Kalau dari segi desainer, saya rasa banyak lho desainer Indonesia yang sudah siap. Banyak desainer yang memang capable di bidang couture,” papar Seba.

Tapi, rintangannya justru datang dari sisi tenaga kerja. Seba mengungkap permintaan pasar untuk couture di Indonesia tak sebanding dengan jumlah tenaga kerja.

"Demand-nya banyak, tapi tenaga kerja yang kurang, layaknya dunia perfilman directornya banyak tapi krunya yang kurang. Banyak sekolah-sekolah fesyen yang mengarahkan ketika lulus menjadi desainer, semua diiming-imingi jadi desainer. Lalu siapa yang jadi tukang payet, tukang potong, itu kan menjadi pertanyaan," ungkapnya.

Senada dengan Seba, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pun turut menyampaikan bahwa Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia yang membantu para desainer untuk menyelesaikan konsep rancangan mereka.

Imbasnya, terjadi ‘kanibalisasi’ di dunia fesyen. Dalam artian, desainer saling membajak tenaga kerja dan perajin.

“Ini harus dibicarakan lebih lanjut dengan para desainer. Mungkin kita belum punya budaya untuk melahirkan perajin yang bisa membantu para desainer merealisasikan mimpinya. Karena kalau dibuat asal-asalan namanya bukan haute couture,” kata Triawan. (les)