Bangkai Pesawat Indonesia Jadi Restoran di China

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Jumat, 05/08/2016 08:24 WIB
Bangkai pesawat dari maskapai Indonesia, Batavia Air, kini beralih fungsi menjadi sebuah restoran mewah di Provinsi Wuhan, China. Bangkai pesawat Batavia Air diubah menjadi restoran mewah di Wuhan, China. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suasana bersantap kini jadi elemen penting dalam industri kuliner, selain variasi menu dan citarasa makanan. Alasannya karena masyarakat urban tidak hanya mencari rasa, tapi juga sisi unik dan berbeda dari suatu tempat.

Itulah yang dilakukan seorang pengusaha kuliner asal China, Li Liang. Baru-baru ini, dia membuka restoran pesawat di Provinsi Wuhan.

Restoran yang dinamakan dengan 'Lily Airways' ini menggunakan area kabin sebuah Boeing 737 tua. Uniknya, Li memperoleh pesawat tersebut dari maskapai Indonesia, Batavia Air, pada Mei 2015 lalu. Namun rumitnya prosedur membuat Li menghabiskan waktu selama enam bulan guna memboyong pesawat tersebut ke China.


"Pembongkaran, pelabuhan, pengiriman, izin usaha dan dagang, semua prosedur ini tidak pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya, yang berarti saya melakukannya satu persatu," kata Li, dilansir dari Oddity Central.

Ia pun menambahkan bahwa Boeing 737 itu harus dibongkar delapan kali dalam perjalanannya selama empat bulan dari Indonesia ke Wuhan.

Potongan-potongan pesawat itu kemudian diangkut menggunakan 70 kontainer, melalui beberapa kali pengiriman. Hal itu membuat Li merogoh kocek hingga tiga juta yuan atau hampir Rp5,9 miliar. Sedangkan, untuk biaya pesawatnya sendiri ia harus membayar sebesar 5 juta yuan atau sekitar Rp9,9 miliar. Biaya yang cukup fantastis itu pun kemudian menjadikan restoran tersebut sebagai yang paling mahal di dunia.

Ruang makan restoran yang berlokasi di Optics Valley Pedestrian Street ini terletak di bagian kabin pesawat, sedangkan area kokpit telah diubah menjadi simulator penerbangan dimana pengunjung dapat merasakan pengalaman ‘menerbangkan’ pesawat.

Soal harga makanan, Li menyebut harga kisaran 200 sampai 300 yuan atau Rp400-600 ribu per orang, sedangkan untuk mencoba simulatornya ia memberi harga 300 hingga 400 yuan atau Rp600-800 ribu. (les)