Lima Langkah Perbaiki Hubungan Pasca Perselingkuhan

Endro Priherdityo , CNN Indonesia | Jumat, 12/08/2016 17:28 WIB
Lima Langkah Perbaiki Hubungan Pasca Perselingkuhan Ilustrasi. (Thinkstock/Crossstudio)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi mereka yang sudah membuat komitmen dengan pasangannnya selama beberapa tahun, tak jarang menghadapi berbagai gangguan. Gangguan yang paling sering dialami adalah godaan untuk melakukan perselingkuhan.

Beberapa pihak menyebutnya sebagai tantangan atau bahkan bumbu dalam hubungan. Namun banyak juga yang menganggap godaan sebagai awal mula perusak hubungan.

Sebagian pasangan berhasil memperbaiki keretakan hubungan, namun tak sedikit juga hubungan yang kandas lantaran membiarkan hubungannya disusupi oleh godaan.

Dilansir dari Men's Journal, Psikolog Klinik dan Penulis Buku After the Affair: Healing the Pain and Rebuilding Trust When a Partner Has Been Unfaithful, Janis A. Spring, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh pasangan yang melakukan perselingkuhan, jika ingin memperbaiki hubungan.

1. Akui Segera

Saat seseorang mengakui diri telah berselingkuh, menurut Spring, itu lebih baik dibanding ketahuan tengah berselingkuh. Pengakuan dapat menjadi langkah awal untuk membangun kepercayaan, sedangkan perselingkuhan yang ditutupi justru menguranginya.

Dalam mengungkapkan sebuah perselingkuhan, pilihan kata yang digunakan harus dipikirkan dengan cermat. Spring menganjurkan untuk memulai dengan menujukkan rasa bersalah. Pasangan berhak tahu kesalahan apa yang telah dilakukan orang yang berselingkuh.

2. Buat Daftar Dosa

Spring mengatakan, beberapa klien membuat serangkaian daftar yang memuat tindakan pasangan yang menyakiti dirinya, termasuk selingkuh. Daftar ini dapat membuat pasangan lebih terbuka satu sama lain, termasuk mengungkap hal yang menyakitkan.

Selama menjalani diskusi ini, pelaku perselingkuhan harus bersikap sebagai pendengar dan memahami bahwa tidak ada yang dapat dibenarkan dari sebuah tindakan perselingkuhan atau pengkhianatan.

Sang pelaku perselingkuhan harus memastikan pasangannya mengetahui bahwa ia mendengarkan dan memahami diskusi yang berlangsung.

3. Katakan Alasannya

Berjanji tidak akan mengulangi perselingkuhan lagi sebenarnya terasa palsu dan omong kosong jika korban perselingkuhan tak memahami mengapa pasangan mereka berselingkuh, kata Spring.

Maka, pelaku perselingkuhan sudah sepatutnya menjelaskan alasan atau faktor yang mendorong mereka berkhianat. Beberapa faktor yang menurut Spring memicu perselingkuhan adalah merasa tidak diperhatikan, kurang dicintai dan tidak bahagia.

"Faktor-faktor tersebut mendorong mereka untuk berselingkuh dan menyakiti orang lain," kata Spring.

4. Ambil tindakan

Spring menegaskan bahwa kepercayaan tidak dibangun berlandaskan omongan belaka, melainkan berdiri di atas sikap yang kuat. Beberapa tindakan yang membuat kecurigaan muncul baiknya dihentikan.

Tindakan lain yang dapat dilakukan adalah memanggil ahli terapi yang profesional. Menurut Spring, ini perlu dilakukan mengingat korban perselingkuhan bukan hanya satu orang dan terluka secara psikis. Korban perselingkuhan termasuk anak-anak.

"Salah satu poin terpenting yang harus dipikirkan adalah anak-anak. Mereka menderita bukan karena konflik antara orang tuanya, atau bahkan perceraian. Mereka menderita karena terjebak di antara perang orang tuanya dan tertekan serta terkesampingkan," kata Spring.

Salah satu saran Spring pada orang tua adalah mencintai anak mereka lebih dari pasangan mereka sendiri.

Tindakan lain yang perlu dilakukan pelaku perselingkuhan adalah mengecek kondisi tubuh mereka, terutama terkait penyakit menular seksual hingga kepastian melakukan hubungan seks menjadi aman kembali.

5. Persiapkan untuk Masa Depan

Dampak perselingkuhan menimpa pasangan sekaligus hubungan mereka. Dan ada banyak hal menyakitkan yang harus dipelajari dalam membangun hubungan perkawinan. Spring mengatakan, perkawinan dapat dibangun kembali, bahkan lebih baik, setelah perselingkuhan terjadi.

Ini seperti menikah ke-dua kalinya dengan orang yang sama. Memang membutuhkan usaha besar, termasuk emosi, namun hubungan tersebut akan lebih kuat dibanding sebelumnya.