Cara Gula Darah Berlebih Sebabkan Serangan Jantung

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Kamis, 01/09/2016 10:40 WIB
Penyumbatan pemicu gagal jantung ternyata bukan hanya berasal dari lemak seperti pada kasus penyakit kardiovaskular biasa. ilustrasi alat pengecek diabetes (Thinkstock/Piotr Adamowicz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Salah satu jenis komplikasi yang mengekor pada kasus diabetes seseorang adalah penyakit jantung. 'Hubungan' keduanya bersifat mematikan, seperti yang terjadi pada kematian penyanyi lawas Eddy Silitonga.

Em Yunir, Ketua Divisi Metabolik Endokrinologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM mengatakan bahwa penyumbatan pemicu gagal jantung ternyata bukan hanya berasal dari lemak seperti pada kasus penyakit kardiovaskular biasa.

"Pada penderita diabetes, semakin tinggi kandungan gula dalam darah maka kerusakan organ akan makin cepat," kata Yunir saat ditemui usai sosialisasi Panduan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri di Jakarta, Selasa (30/8).


"Mekanismenya, gula darah yang tinggi membuat sel darah putih menjadi mudah lengket ke dinding pembuluh darah. Selain itu, gula darah yang tinggi mengganggu mekanisme pembekuan darah," kata Yunir.

Kondisi ini mirip dengan kondisi kandungan kolesterol tinggi pada seseorang. Selain gula darah dan kolesterol, yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah atau aterosklerosis dapat berupa hipertensi serta karena rokok.

Aterosklerosis merupakan penyakit yang tak muncul dalam semalam. Penyumbatan akibat penumpukan plak pada dinding pembuluh darah karena berbagai faktor ini akan hadir dalam rentang waktu tahunan bahkan dekade. Kejadian paling umum yang terjadi dari aterosklerosis adalah terhambatnya bahkan terhentinya aliran darah ke jaringan yang akan dialiri dan menyebabkan kematian sel. Bila terjadi di pembuluh darah arteri, maka akan mengantar pada serangan jatung, begitu pula pada stroke di otak.

Kondisi gula darah yang tak pernah terkendali dan berlangsung dalam rentang waktu lama sanggup menggiring penderita dalam kondisi ini. Menurut data yang dilansir American Heart Association, setidaknya 68 persen penderita diabetes berusia 65 ke atas meninggal dunia karena komplikasi jantung, dan 16 persen karena stroke.

Sedangkan menurut American Diabetes Association, orang dengan diabetes memiliki peluang terkena serangan jantung setidaknya dua kali lipat lebih besar dibanding mereka yang tidak memiliki diabetes.

Kondisi inilah yang menuntut para diabetesi atau pengidap diabetes untuk selalu mengendalikan kadar gula darah dengan rutin dan benar untuk memperlama kejadian komplikasi dari salah satu pembunuh senyap di dunia itu. (chs)