Kanker Otak Jadi Pembunuh Anak Nomor Satu di AS

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Senin, 19/09/2016 16:46 WIB
Kanker Otak Jadi Pembunuh Anak Nomor Satu di AS Kematian anak akibat kanker otak di Amerika Serikat terus meningkat selama 15 tahun terakhir. (Thinkstock/kdshutterman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengumumkan bahwa kanker otak merupakan penyakit yang paling banyak merenggut nyawa anak di AS. Angka kematian akibat kanker otak bahkan melebihi leukimia atau kanker darah.

Pada 1999, sekitar satu dari tiga anak yang meninggal karena kanker, mengidap leukimia. Sementara, hanya ada satu dari empat anak yang mengidap kanker otak.

Hampir dua dekade berlalu, pada 2014, angka tersebut berbalik. Peneliti menemukan statistik baru tersebut dari hasil perbandingan angka kematian di bangsal kanker anak selama 15 tahun terakhir.


“Leukimia, satu generasi lalu, dianggap penyakit yang sangat fatal, namun sekarang punya harapan sembuh yang tinggi,” kata Sally Curtin, ketua peneliti, kepada Reuters.

Secara umum, angka kematian anak akibat kanker turun hingga 20 persen sejak 1999. Tren positif yang terus berlanjut sejak pertengahan 1970-an, menurut studi National Center for Health Statistics.

Tapi, pada 2014, dari 100 ribu anak-anak dan remaja, usia satu sampai 19 tahun, kanker membunuh sekitar 2,28 persen atau 2.280 orang.

Selain kanker otak dan leukimia, jenis kanker lainnya yang fatal bagi anak adalah kanker tulang serta kanker getah bening. Keempat jenis kanker tersebut merupakan penyebab utama kematian anak akibat kanker, atau sekitar 81,6 persen.

Sayangnya, jika angka leukimia menurun, karena perkembangan pengobatan yang pesat, tidak demikian halnya dengan kanker otak.

CDC melaporkan, selama 2014, terdapat 445 anak yang meninggal akibat leukimia. Angka itu turun dari 645 anak pada 1999. Sementara kematian akibat kanker otak justru meningkat, dari 516 anak pada 1999 menjadi 534 anak pada 2014.

“Khusus untuk kanker otak, dunia medis AS tidak membuat kemajuan signifikan dalam menangani penyakit tersebut,” papar Katherine Warren, Kepala Neuro-Onkologi Pediatri di National Cancer Institute.

Alasannya, ujar Warren, karena kanker otak lebih sulit diobati. Sebagian besar karena pembuluh darah di otak yang melindungi pusat saraf terhadap racun, juga menghalangi masuknya kemoterapi.

“Dengan leukimia, kita bisa menyuntikkan terapi langsung pada darah dan sumsum tulang, di mana kanker itu berada. Tapi tidak demikian dengan kanker otak,” paparnya.

Terlebih, Warren menyebut kanker otak pada anak punya karakter berbeda dengan kanker otak pada orang dewasa.

“Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menemukan pengobatan yang tepat,” kata dia. (les)