Arsitek Spanyol Dikritik Usai Perbaiki Kastel Abad ke-9

Munaya Nasiri, CNN Indonesia | Selasa, 27/09/2016 07:17 WIB
Arsitek Spanyol Dikritik Usai Perbaiki Kastel Abad ke-9 Demi menjaga sejarah, kastel kuno di Gunung Pajarete, Spanyol ini telah ditambal sulam. Namun sang arsitek malah dihujani kritik. (Ignacio Palomo Duarte via Wikimedia Commons (CC-BY-SA-4.0))
Jakarta, CNN Indonesia -- Mengembalikan bentuk bangunan dari sebuah monumen kuno tentu membutuhkan pemikiran yang panjang. Apakah dinding akan dibangun dengan bahan serupa dengan aslinya, atau membangun ulang keseluruhan bangunan dengan beton agar tahan lama?

Agaknya alasan ke-dua yang dijadikan pilihan oleh seorang arsitek asal Spanyol bernama Carlos Quevedo Rojas. Dia mengembalikan bentuk bangunan kuno Castle of Matrera di Spanyol.

Kastel Matrera merupakan sebuah bangunan abad ke-sembilan yang berdiri di Gunung Pajarete, kota Villamartin. Bangunan ini pernah menjadi bagian dari benteng besar yang dikelilingi oleh dinding sepanjang lebih dari 500 meter.


Tempat ini kemudian menjadi saksi bisu peperangan antara Muslim dengan Kristiani selama ribuan tahun. Hingga akhirnya, lima tahun lalu, bangunan ini pun perlahan hancur dan memerlukan perbaikan segera.

Demi mempertahankan sisa kastel itu, Rojas memutuskan untuk menambahkan material bangunan. Dia menggabungkan konstruksi bangunan lama yang tersisa dengan bangunan dari semen yang dicat warna putih.

Tentu saja, pemulihan bentuk bangunan yang terkesan modern ini menuai kritik dari masyarakat setempat, juga media massa. Bahkan beberapa arsitek dan pelindung budaya di seluruh dunia turut membahasnya.

Namun, Rajos menilai, restorasi bangunan itu telah sesuai dengan hukum Historical Heritage 13/2007, yang melarang rekonstruksi bangunan dengan meniru, dan diharuskan menggunakan bahan yang berbeda dari aslinya.

"Anda harus memilah dan mempertahankan nilai sejarah dan integritas arsitektur," ujar Rojas kepada New York Times, seperti yang dikutip Amusing Planet.

Ia menambahkan, "Anda tidak dapat membuat struktur dengan penampilan yang sama seperti aslinya. Anda tidak bisa memalsukan penampilan. Itu harus jelas, bagian mana yang baru dan bagian mana yang lama."

Rojas juga menegaskan bahwa tujuan utama dari restorasi bangunan tersebut adalah untuk mencegah runtuhnya struktur bangunan yang tersisa. Pemulihan ini, menurutnya, berusaha untuk mencapai tiga tujuan yaitu mengkonsolidasi elemen yang berisiko, membedakan dari bangunan asli, serta menguatkan volume dan tekstur bangunan.

"Inti dari proyek ini memang tidak seperti yang diharapkan [masyarakat luas], melainkan gambaran dari masa depan dan refleksi masa lalu," katanya.

Meski mendapat banyak kritik, hasil inisiasi Rojas ini mendapat penghargaan dari Architizer, sebuah komunitas arsitek online. Rojas mendapat penghargaan bergengsi Architizer A+ di kategori arsitektur dan pelestarian.

"Kami sangat senang," kata Rojas, "ini adalah pengakuan besar dari lima tahun usaha kami. Proyek dan pembangunan ini bisa selesai berkat banyaknya analisis, ketelitian dan detail."

(vga)