Jakarta Wajibkan Siswa SD Vaksin HPV

Munaya Nasiri, CNN Indonesia | Selasa, 27/09/2016 19:26 WIB
Usia 9-13 tahun dianggap memiliki daya imunitas yang masih baik. Demi mencegah kanker serviks, siswa Sekolah Dasar kini diwajibkan suntik vaksin HPV. Ilustrasi. (Thinkstock/Itsmejust)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kanker serviks atau kanker mulut rahim bukanlah sebuah penyakit keturunan, melainkan terjadi akibat infeksi dari Human Papillomavirus (HPV). Virus ini dapat menginfeksi sel epitel kulit dan selaput lendir, seperti pada alat kelamin dan mulut.

Jika dibiarkan, HPV dapat berkembang menjadi kanker. Sayangnya, infeksi HPV pada seseorang tidak menimbulkan gejala tertentu. Kalau pun ada gejala, biasanya hanya berupa kutil pada kulit atau alat kelamin.

Prof. Dr. dr. Andriyono, SpOG(K) selaku ketua HOGI (Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia), berujar bahwa saat ini kanker serviks dikatakan sebagai penyebab kematian tertinggi kedua setelah kanker payudara, termasuk di Indonesia.


"Biasanya penderita kanker serviks yang datang, sudah pada stadium lanjut, yaitu stadium 3-4 yang sudah tidak bisa dioperasi, meskipun punya uang bermilyar-milyar," ungkap Andriyono. "Tapi, virus ini sangat bisa untuk dicegah."

Karenanya, Kementerian Kesehatan memutuskan untuk menambahkan agenda vaksinasi HPV pada agenda tahunan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), yang biasa diselenggarakan pada bulan Agustus.

Hal ini dilakukan atas dasar rekomendasi dari WHO yang mengatakan bahwa usia 9-13 tahun adalah jangka usia yang paling baik untuk diberikan vaksin HPV, "karena daya imunitasnya masih bagus," ujar Andriyono. Vaksin ini pun tidak dipungut biaya.

Lebih jauh lagi, Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinkes DKI, Widyastuti, menjelaskan bahwa nantinya anggota puskesmas akan menuju ke sekolah-sekolah untuk pemberian vaksinasi HPV.

"Agenda ini sudah rutin sejak sepuluh tahun lalu. Biasanya imunisasi DT (Difteri Tetanus) dan TT (Tetanus Toxoid) untuk anak kelas satu sampai tiga, tapi tahun ini kami tambahkan dengan vaksin HPV untuk murid di kelas lima dan enam," ujarnya.

Bukannya tanpa alasan, pemberian vaksin untuk siswa kelas lima dan enam didasarkan pada efektifitasnya. "Kami menyasar pada usia 11-12 tahun, sesuai rekomendasi WHO. Usia tersebut efektif karena hanya dibutuhkan dua dosis saja. Sedangkan di atas usia tersebut biasanya butuh sampai tiga dosis."

Widyastuti menjelaskan bahwa khusus di tahun ini vaksin HPV akan dilaksanakan mulai 4 Oktober, sedangkan di tahun berikutnya akan diselenggarakan di bulan Agustus bersamaan dengan BIAS.

"Jadi selama bulan Oktober akan dilakukan vaksin HPV di sekolah-sekolah. Tahun ini hanya murid kelas lima saja yang akan divaksin. Kemudian tahun depan, murid kelas lima akan diberikan dosis pertama dan kelas enam diberikan dosis yang kedua," jelas Widyastuti.

Vaksin ini mula-mula akan dilaksanakan di DKI Jakarta, "karena paling siap untuk pengadaan vaksin ini." Sedangkan di tahun depan, Yogyakarta akan menyusul pengadaan pelayanan vaksin HPV di sekolah-sekolah dasar dan sederajat.

Widyastuti juga mengatakan bahwa sampai saat ini sosialisasi mengenai kanker serviks rutin dilakukan melalui agenda dari PKK. "Kami sosialisasi melalui PKK untuk melakukan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) Test. Untuk saat ini IVA Test sendiri sudah bisa dilakukan di puskesmas. Jadi kami memang menyasar pada wanita usia 30 tahun ke atas," ujarnya.


(meg)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK