Bukan hanya karena produk pembalut yang diumumkan tersebut umumnya dipakai oleh para konsumen perempuan, tapi juga karena dampak negatif klorin yang dapat menyebabkan kanker serviks.
Laksmi Duarsa, dokter kulit dan kelamin, mengatakan bahwa paparan klorin terhadap kulit mungkin saja dapat menyebabkan kanker. “Kalau klorin sebagai penyebab kanker mungkin saja, tapi saya belum pernah baca penelitiannya,” ujar Laksmi saat dihubungi oleh CNN Indonesia pada Rabu (8/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kanker dapat terjadi ketika orang dengan iritasi terbuka, tanpa penghalang atau pelindung apapun, terpapar oleh zat kimia seperti klorin, kata Laksmi menjelaskan. Menurut dokter yang berdomisili di Bali tersebut, kanker serviks karena klorin pembalut mungkin terjadi pada seseorang dengan iritasi kronis.
“Yang lebih banyak terkena adalah orang-orang yang berhubungan seksual sehingga menyebabkannya terkena iritasi kronis. Iritasi kronis yang kemudian terpapar zat klorin bisa saja menyebabkan kanker. Secara nalar iritasi terbuka memang dapat menyebabkan kanker,” ujarnya melanjutkan.
Menurut Laksmi, salah satu cara menghindari efek negatif klorin pada pembalut adalah dengan mengetahui kondisi kulit sendiri.
“Apakah kita memiliki dermatitis kulit atau ada alergi atau tidak.” Jika ada, Laksmi menyarankan agar kondisi tersebut diketahui apa penyebab utamanya, misalnya alergi pada zat kimia tertentu seperti klorin.
“Jika sudah diketahui penyebab utamanya, baru bisa dihilangkan (penyakitnya).” (Baca juga: Hindari Bahaya Klorin, YLKI Sarankan Penggunaan Pembalut Kain)
YLKI mengatakan, bahwa salah satu menghindari bahaya klorin pada pembalut adalah dengan menggunakan pembalut kain. “"Zat klorin tidak ditemukan dalam pembalut kain. Selain itu, pembalut kain juga bisa dipakai ulang dan dicuci kembali. Tingkat keamanannya jangka panjang," ujar Tulus pada jumpar pers di kantor YLKI kemarin, Selasa (7/7).
Senada dengan hal tersebut, Laksmi mengungkapkan bahwa pembalut dengan kain adalah cara yang baik menghindari efek negatif zat berbahaya di pembalut.
“Karena pada pembalut kain kita sendiri yang menyuci, jadi kita tahu apa yang kita pakai. Seperti halnya kita mangonsumsi makanan di rumah dengan makanan jajanan. Kita tidak tahu pakai MSG atau tidak,” katanya.
“Kejelekannya memang lebih ribet saja,” kata Laksmi menambahkan.
(win/mer)