Unggahan di Facebook Dapat Tunjukkan Kesehatan Mental
Munaya Nasiri | CNN Indonesia
Sabtu, 29 Okt 2016 16:15 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Aktivitas di media sosial ternyata dapat menjadi penanda seseorang mengidap penyakit. Setidaknya inilah yang baru-baru ini ditemukan dari sebuah studi yang dilakukan oleh sejumlah peneliti di Cambridge dan Stanford University, Inggris.
Para peneliti menemukan bahwa mempelajari kebiasaan seseorang di media sosial lebih efektif dibanding mengikuti kebiasaannya di dunia nyata. Itu terjadi lantaran banyak orang, terutama remaja, yang berbagi perasaannya lewat media sosial.
"Facebook sangat populer dan bisa memberikan kami banyak data untuk mengetahui gangguan kesehatan mental seseorang, seperti depresi dan schizsophrenia," ujar Ketua tim penelitian, Dr. Becky Inkster menulis di Lancet Psychiatry, seperti dilansir dari Independent.
Inkster dan timnya meyakini bahwa pada setiap aktivitas yang dilakukan di media sosial dapat membantu mereka untuk mengetahui kebiasaan dan perilaku seseorang.
Rekan Inkster, Dr. Michal Kosinski mengatakan, informasi yang diunggah ke Facebook jauh lebih mudah untuk dianalisa. Studi sebelumnya juga telah mengungkapkan betapa kuat pengaruh media sosial pada seseorang.
Apabila hubungan pertemanan seseorang diputuskan di media sosial, itu bisa menimbulkan emosi negatif. Begitu pula dengan unggahan yang ada di linimasa, mereka bisa memengaruhi suasana hati.
Tidak hanya memberi dampak buruk, media sosial seperti Facebook juga dapat berpengaruh positif.
Dr. Inkster mengatakan, jika digunakan dengan baik, Facebook dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri seseorang dan membuat orang yang selama ini mengurung diri lebih terbuka dan bersosialisasi.
"Seperti diketahui, perasaan terasing dan sendiri akan berujung pada depresi dan pikiran untuk mengakhiri hidup, karenanya media sosial kadang juga bisa menjadi hal positif jika digunakan dengan benar," ujarnya. (rah)
Para peneliti menemukan bahwa mempelajari kebiasaan seseorang di media sosial lebih efektif dibanding mengikuti kebiasaannya di dunia nyata. Itu terjadi lantaran banyak orang, terutama remaja, yang berbagi perasaannya lewat media sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rekan Inkster, Dr. Michal Kosinski mengatakan, informasi yang diunggah ke Facebook jauh lebih mudah untuk dianalisa. Studi sebelumnya juga telah mengungkapkan betapa kuat pengaruh media sosial pada seseorang.
Apabila hubungan pertemanan seseorang diputuskan di media sosial, itu bisa menimbulkan emosi negatif. Begitu pula dengan unggahan yang ada di linimasa, mereka bisa memengaruhi suasana hati.
Tidak hanya memberi dampak buruk, media sosial seperti Facebook juga dapat berpengaruh positif.
Dr. Inkster mengatakan, jika digunakan dengan baik, Facebook dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri seseorang dan membuat orang yang selama ini mengurung diri lebih terbuka dan bersosialisasi.
"Seperti diketahui, perasaan terasing dan sendiri akan berujung pada depresi dan pikiran untuk mengakhiri hidup, karenanya media sosial kadang juga bisa menjadi hal positif jika digunakan dengan benar," ujarnya. (rah)