Tapi studi terbaru mengungkap, pemberian 'like' di media sosial ternyata bisa memengaruhi fisiologi otak. Melansir CNN, penelitian Brain Mapping Center University of California Los Angeles (UCLA) membuktikan, sebuah 'like' berdampak sama seperti menang lotre bagi remaja.
"Remaja yang unggahannya [lebih banyak] disukai, aktivasi bagian otaknya lebih besar dibanding lainnya," kata Lauren Sherman, pemimpin penelitian tersebut. Bagian otak yang teraktifkan itu sama seperti ketika melihat gambar orang yang disukai atau memenangi lotre berhadiah uang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil pindai menunjukkan, bagian nucleus accumbes yang bertugas merespons rasa penghargaan menjadi aktif saat remaja mengetahui ada yang menyukai foto mereka. Semakin banyak yang suka, semakin aktif pula bagian itu. Sensasi itulah yang membuat remaja jadi sering menggunakan media sosial tersebut.
Respons otak remaja terhadap pemberian 'like' juga dianggap Sherman sebagai bentuk suksesnya penyampaian pesan dalam pola komunikasi anak masa kini. Dahulu, sebelum media sosial berkembang, keberhasilan penyampaian pesan bersifat kualitatif melalui komunikasi non-verbal.
Misalnya, isyarat atau ekspresi wajah. Tapi kini, remaja lebih dapat memahami kesuksesan pesan secara terukur melalui 'like,' 'retweet', atau 'favorite.' Jika remaja mendapat apresiasi-apresiasi itu, artinya pesan telah tersampaikan dengan baik. (rsa/les)