Kala itu, jaket hijau army yang dikenakan Jokowi di luar kemeja putihnya menghebohkan media maya.
Jaket bomber Jokowi itu memang sedang tren. Netizen lantas meributkan betapa gaya busana Jokowi, yang memadukan jaket itu dengan kemeja putih dan celana kain panjang hitamnya, bisa dibilang fashionable. Ia jadi seperti anak muda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi uniknya, ada saja netizen yang memanfaatkan untuk berbisnis. Mereka mengklaim menjual jaket bomber ala Jokowi, dengan harga sampai Rp5 juta.
Pilot-pilot pesawat tempur Perang Dunia I lah yang pertama mengenakannya. Mengutip Start Up Fashion, munculnya jaket itu adalah karena menerbangkan pesawat zaman dahulu tak seaman dan setertutup penerbangan masa sekarang.
Kebanyakan pesawat tidak punya kokpit tertutup. Sementara ia harus terbang tinggi dan cepat. Pilot jelas bakal kedinginan di udara. Untuk menjaga diri tetap hangat selama penerbangan, digunakanlah mantel kulit yang berat.
Penciptanya Royal Flying Corps di Belgia dan Perancis. Bahannya sengaja dibuat dari kulit, karena diyakini itu elemen terkuat menahan angin.
Tak lama, gagasan yang sama diadaptasi oleh militer Amerika. Mereka mendirikan Aviation Clothing Board pada 1917. Mereka membuat jaket kulit untuk penerbang sendiri. Tapi desainnya masih sangat sederhana.
Model jaket bomber yang dikenal sekarang, baru ada pada 1932. Us Army Air Corps-A2 yang mengeluarkannya. Jaket itu berkerah tinggi, mengerut di bagian perhelangan dan pinggang, ritsleting depan, dilengkapi kain penutup tambahan untuk menahan angin. Jika ingin lebih hangat, ada yang menambahinya bulu.
Jaket model itu dianggap modis dan sangat fungsional. Ia juga tahan lama.
Model bomber dipertahankan, hanya ditambahi berbagai variasi. Selain bulu, ada yang membuatnya dengan katun. Ada pula yang menambah lubang di beberapa bagian untuk masker oksigen atau peralatan perang khas militer lainnya.
Pada 1950, jaket bomber akhirnya beralih fungsi. Tak lagi hanya dipakai militer, tetapi mulai merambah pihak sipil. Setelah Perang Korea dan Vietnam, ia makin populer. Semua mengakui ia bisa menghangatkan. Jaket bomber pun dikenakan bukan hanya di udara, tapi juga sehari-hari untuk musim dingin maupun gugur. Bahkan, jaket model yang sama juga dikenakan di musim semi.
Karena jaket model itu mulai banyak dikenakan orang awam, dunia fesyen pun mulai ‘mengutak-atiknya.’ Pada 1960 sampai 1980-an, model jaket semacam itu populer di Eropa. Sayangnya, ia juga diidentikkan simbol pemberontakan.
Di AS, Eropa, dan Jepang, jaket bomber diciptakan dengan warna lebih terang. Yang mengenakannya kebanyakan anak-anak jalanan. Komunitas punk pun mulai memadukannya dengan kaus oblong, celana jin, dan sepatu boot Doc Martens.
Anggapan bahwa jaket bomber adalah simbol pemberontakan tidak berlangsung lama. Pada 1980-an, popularitasnya meledak. Selebriti Hollywood mengenakannya dalam film. Ada Steve McQueen di The Hunter, Harrison Ford di Indiana Jones, dan Tom Cruise di Top Gun. Itu jadi jaket wajib punya bagi pencinta fesyen.
Hingga kini, bomber menjadi model terutama setelah dikenakan Kanye West. Tafsirannya lebih modern, tidak harus berwarna seperti militer. Label-label ternama seperti Raf Simons, Rick Owens, sampai H&M pun punya bomber sendiri.
Apa label yang dikenakan Jokowi, semua hanya bisa menebak-nebak di dunia maya, sembari menambahkan tagar #JaketJokowi. Kaesang Pangarep sang putra berusaha memberi jawaban, tapi akun yang disebut perusahaan keluarga sendiri. (rsa)