'Tren' Sushi di Jepang, Makan Ikan dan Tinggalkan Nasinya

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Senin, 14/11/2016 13:41 WIB
'Tren' Sushi di Jepang, Makan Ikan dan Tinggalkan Nasinya Perempuan Jepang punya kebiasaan baru dan aneh demi mendapatkan tubuh langsing. (Pixabay/adonlinepromo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sushi selama ini dikenal sebagai makanan sahabat orang-orang yang sedang diet. Sushi, makanan khas Jepang yang terdiri satu kepal nasi sushi dan irisan ikan atau gulungan sayur ini dianggap sebagai makanan sehat dan rendah kalori.

Namun belakangan ini, perempuan-perempuan Jepang yang tengah diet rendah karbohidrat 'menghadirkan' perilaku aneh yang mengakibatkan sushi tak lagi dianggap sebagai makanan sehat.

Mengutip grapee, kini saat makan sushi, perempuan Jepang yang diet karbo, tak mau menyantap nasi sushi juga.


Saat makan nigiri sushi (sushi kepal) perempuan Jepang yang diet karbo meninggalkan nasi sushi (shari) dan hanya menyantap topping ikan (neta) yang ada di atas sushinya. Perilaku ini terlihat dari sebuah unggahan foto di twitter.

Dalam unggahan foto online tersebut terlihat banyak orang yang menyisakan berkepal-kepal nasi tanpa topping di atas piring sushi.

Hal ini dilakukan untuk memangkas kalori yang masuk dalam tubuh dengan mengonsumsi gula lebih sedikit dan juga karbohidrat. Tak dimungkiri, nasi termasuk di dalamnya. Semuanya dilakukan demi mendapat tubuh yang ramping, atau malah kurus.

Perempuan Jepang beranggapan bahwa memiliki tubuh kurus itu cantik. Selain itu mereka juga percaya bahwa memiliki tubuh kurus juga menjadi pintu gerbang keberuntungan, apalagi juga dengan idola-idola Jepang yang punya tubuh kurus semakin mendorong perempuan Jepang untuk punya tubuh kurus. Dengan kata lain, kurus sama dengan sukses.

Namun orang tua-orang tua di Jepang yang melihat hal itu merasa kecewa. Konflik antara kebiasaan generasi tua yang tak mengizinkan adanya pemborosan makanan dengan tren baru anak muda demi tubuh langsing pun mulai meruak.

Generasi tua Jepang berkomentar, 'Mottainai' tentang perilaku ini. Kata tersebut diterjemahkan sebagai 'sayang sekali (pemborosan makanan)" atau 'jangan boros.'


(chs)