Peneliti Temukan 'Ciuman' Penghangat Ranjang

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Selasa, 24/01/2017 23:52 WIB
Peneliti Temukan 'Ciuman' Penghangat Ranjang Peneliti di Inggris menemukan hormon kisspeptin yang dinilai mampu memecahkan masalah seksual dan ketidakharmonisan pada pasangan. (Thinkstock/KatarzynaBialasiewicz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi pasangan yang sudah lama menikah, kemesraan di kamar tidur kadang berubah jadi rutinitas. Tak jarang, banyak yang merasa bosan dan mencari cara baru guna menghidupkan kembali gairah bercinta.

Tapi, kini tidak perlu sulit membangkitkan petualangan seksual. Pasalnya, para peneliti di Imperial College London menemukan hormon baru yang bisa merangsang gairah dan rasa cinta di otak.

Hormon bernama kisspeptin ini dinilai mampu memecahkan masalah seksual dan ketidakharmonisan pada pasangan.


Sebagai uji coba, para peneliti menyuntikan kisspeptin pada 29 pria normal. Para partisipan kemudian diperlihatkan berbagai gambar yang berorientasi pada aktivitas seksual atau pasangan yang tengah melakukan hal romantis. Hasilnya, peserta menunjukan gairah yang meningkat.

Melalui pemindai Magnetic Resonance Imaging (MRI), terlihat bahwa hormon ini dapat mempengaruhi daerah otak yang berhubungan dengan gairah seksual. Namun, hasil berbeda muncul sat partisipan diperlihatkan gambar-gambar non seksual.

Profesor Waljit Dhillo, yang memimpin penelitian menjelaskan, kisspeptin akan meningkatkan aktivitas otak yang dapat merangsang gairah seksual dan asmara.

"Kisspeptin berperan dalam merangsang emosi dan tanggapan yang mengarah ke seks dan reproduksi," ujar Dhillo, dikutip Independent.

Lebih lanjut ia mengklaim penemuan ini dapat digunakan untuk membantu pasangan mengobati gangguan emosional yang dapat memicu terjadinya infertilitas.

"Pada akhirnya kami ingin melihat apakah kisspeptin dapat menjadi pengobatan efektif untuk gangguan psikoseksual dan membantu pasangan yang berjuang untuk mendapatkan keturunan,” papar Dhillo.

Di sisi lain, para peneliti juga menemukan bahwa kisspeptin bisa memengaruhi depresi. Efek hormon tersebut, diketahui mampu mempengaruhi suasana hati jadi lebih baik, sehingga kisspeptin dinilai mampu membantu penderita depresi.

Pernyataan itu dibenarkan Dokter Alexander Comninos yang juga terlibat dalam studi. Dia mengatakan para peneliti tengah melakukan studi lebih lanjut untuk menyarankan kisspeptin menjadi terapi pengobatan guna mengatasi depresi.

"Studi ini menemukan hal menarik bahwa kisspeptin mungkin bisa digunakan untuk mengobati gangguan psikososial dan dan depresi," ujar Comninos.

Penelitian tersebut dipublikasikan di Journal of Clinical Investigation. Tim juga berencana melakukan penelitian lanjutan guna mempelajari efek kisspeptin pada kelompok yang lebih besar, termasuk juga kaum perempuan.

(okt/les)