Hikayat Abadi China Benteng

Andry Novelino, CNN Indonesia | Sabtu, 28/01/2017 17:00 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- China Benteng merupakan potret lain etnis Tionghoa di Indonesia. Mereka berkulit gelap, tidak dapat berbahasa Mandarin, dan lebih lekat dengan budaya Betawi.

Klenteng Boen Tek Bio diperkirakan dibangun pada 1684 dan menjadi klenteng tertua di Tangerang yang saat ini berusia lebih dari 300 tahun. Senin, (23/1) (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Warga Tionghoa Tangerang yang kerap dikenal dengan sebutan China Benteng tetap melaksanakan ritual ibadah di klenteng-klenteng yang banyak tersebar di Kota Tangerang. Warga melakukan ibadah dan melakukan puji-pujian dengan membakar dupa dan lilin di klenteng yang tertua di Tangerang. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Sejarah China Benteng dimulai pada 1407 ketika bangsa Manchu dari Dinasti Qing berlabuh di tepian sungai Cisadane. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
China Benteng kaya akan akulturasi kebudayaan, agama yang banyak dianut adalah Kong Hu Cu, Buddha dan Tao. Di antara begitu banyak ritual dan upacara yang dilakukan, etnis Tionghoa di Pasar Lama, Tangerang, kini sudah banyak campuran dari masyarakat dari luar daerah. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Tidak seperti China peranakan pada umumnya, Lim Lin Nieo (66), berkulit gelap. Nenek moyangnya adalah suku Hokkian yang datang ke Tangerang dan tinggal turun-temurun. Mereka masuk dengan perahu melalui Sungai Cisadane lebih dari 300 tahun silam. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Lim On Nie (80), kesehariannya ia bekerja sebagai pembuat nasi uduk. Masyarakat keturunan etnis Tionghoa yang mendiami kawasan tepi sungai Cisadane memiliki ciri fisik dan budaya yang berbeda dengan etnis China pada umumnya, tidak bisa berbahasa Mandarin. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Icang (43), sebagai wakil RT, sekaligus warga yang dengan keseharian merawat Vihara TJong Tek Bio, yang berada di kawasan pemukiman Kampung China Benteng, Mekarsari, Tangerang. Sebagian dari warga Kampung China Benteng mereka bersuami atau istri penduduk asli Indonesia. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Tan Kim Sui (90), dahulu bekerja sebagai buruh tani, ia adalah warga tertua dan masih memiliki rumah gedek yang merupakan khas pemukiman China Benteng kuno. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Tan Unsian (50) warga keturunan etnis Tionghoa yang mendiami kawasan tepi sungai Cisadane dan sehari-hari berkeliling berdagang kue. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Beberapa warga tampak menjala ikan bandeng di tepian sungai dan bersiap untuk mandi di sungai Cisadane, yang berada di belakang perkampungan China Benteng, Tangerang. Harus sedikit hati-hati berada di tepi sungai itu, karena sering terjadi longsor di beberapa titik dan juga waspada banjir.(CNN Indonesia/Andry Novelino)
Warga yang tinggal di daerah pintu air, kini masih terancam digusur. Pemerintah Tangerang akan melakukan normalisasi bantaran kali pada tahun 2017. China Benteng adalah potret lain dari warga Tionghoa. Makin masuk ke dalam kampung, kemiskinan kian menyapa. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Di kawasan China Benteng, di setiap pintu rumah yang masih terbuat dari Gedek, bisa ditemukan secarik kertas kuning menempel dengan goresan aksara China kuno. Tujuan dari pemasangan aksara tersebut adalah tradisi turun menurun peninggalan dari nenek moyang. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Terdapat klenteng lain di kawasan China Benteng. Klenteng Tjong Tek Bio adalah klenteng besar di tengah kampung.  (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Klenteng Tjong Tek Bio merupakan klenteng tertua ketiga di Tangerang berdiri sejak 1830. Klenteng itu awalnya berada di depan gapura pintu masuk perkampungan dan pindah tempat ke dalam pada tahun 1966. (CNN Indonesia/Andry Novelino)