Analisis

'Skip Challenge', Sesumbar Kecerobohan Kaum Remaja

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Jumat, 10/03/2017 19:05 WIB
Skip challenge tengah viral di media sosial. Kalangan remaja menganggap aksi ini sebagai permainan yang harus dicoba. Padahal ada ancaman mengintai dibaliknya. Skip challenge tengah menjadi tren baru di kalangan remaja, padahal tantangan ini berbahaya dan bisa mengakibatkan kematian. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Belakangan, media sosial dipenuhi unggahan soal skip challenge. Tantangan menekan dada hingga pingsan ini banyak dilakukan remaja, terutama di sekolah menengah.

Bagi remaja, skip challenge adalah permainan yang menantang dan harus dicoba. Di sisi lain, para pelaku skip challenge ini juga mendapatkan kepuasan dan peningkatan ‘status’ di mata teman-temannya, karena berhasil menaklukkan tantangan terkini.

Sebelum populer di Indonesia, skip challenge ini sudah ‘mewabah’ di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat.


Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat menyatakan, sepanjang 1995-2007 saja,ada 82 media di AS yang melaporkan kematian karena #SkipChallenge.


Sementara Di Irlandia dan Denmark, banyak situs tentang parenting memperingatkan orangtua tentang bahaya tantangan yang juga disebut pass out challenge dan space monkey ini.

Kini, seruan untuk mewaspadai tantangan skip challenge ini jadi viral di sosial media dan grup percakapan. Bahkan di situs mikroblogging Twitter, pada Jum'at (10/3), tagar #skipchallenge dibicarakan lebih dari 2800 orang dan merupakan trending topic nasional.

Padahal, tantangan ini berbahaya dan bisa menyebabkan kematian.

Menurut dr Nastiti Kaswandani dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI di Menteng, Jakarta Pusat, skip challenge berbahaya karena mereka diharuskan menghambat jalur pernapasannya dengan sengaja.

“Saat dada ditekan dengan kuat, pembuluh darah besar akan tertekan dan menghambat aliran darah beroksigen ke otak. Hal ini akan menyebabkan orang akan kejang dan pingsan,” kata dr Nastiti.

Selain itu, dia menambahkan, terhambatnya oksigen ke otak ini disebut sebagai hypoxic-anoxic brain injury (HAI). Selain menyebabkan masalah seketika (sesak napas dan lainnya), aksi ini juga menyebabkan efek jangka panjang untuk tubuh.


“Aksi ini akan menyebabkan kematian sel tubuh, masalah penglihatan, juga kerusakan fungsi motorik tubuh,” terangnya.

Sayangnya, remaja tidak mengindahkan soal bahaya ini. Yang mereka pikirkan hanya kesenangan menaklukkan tantangan itu.

Usia remaja memang momen dimana semua hal berisiko jadi tantangan yang menggoda. Petualangan yang memicu adrenalin. Ketegangan saat melakukan tantangan itu adalah ‘adiksi’ tersendiri.

Begitu pun saat melakukan skip challenge. Dada yang ditekan kuat hingga pernapasan terhambat, akan membuat tubuh terasa lemas karena kurangnya asupan oksigen ke otak. Imbasnya, ada perasaan ‘tinggi’ sebelum tubuh kemudian limbung dan pingsan.

Perasaan ‘tinggi’ itulah yang membuat mereka ketagihan melakukan skip challenge berulang kali.


Di sisi lain, bisa jadi adanya peer pressure atau tekanan sosial yang membuat tantangan ini viral. Buktinya, terdapat banyak akun Instagram yang fokus mengunggah video-video skip challenge.

Selain skip challenge, banyak tren berbahaya lainnya yang juga marak dilakukan remaja dan dipamerkan di media sosial, seperti cinnamon challenge atau tantangan menelan bubuk kayu manis dalam jumlah banyak, dan ice bucket challenge yang meminta pelakunya menyiram seember air es secara mendadak.

“Mereka (remaja) hanya berpikir tentang popularitas dan keinginan melakukan hal yang sama dengan teman-temannya. Mereka pikir melakukan tantangan ini adalah sesuatu yang keren,” kata Psikiater Daniel Cowell.

“Ini bukan hal yang keren. Ini berbahaya,” sambungnya.

(les)