Psikolog Livia Iskandar mengatakan ada beberapa hal yang bisa mengindikasi mengapa seseorang bunuh diri sembari mempertontonkan di media sosial.
Salah satunya, orang tersebut ingin orang lain memperhitungkan kasus dia. "Bisa jadi saat ia stres atau depresi, tapi orang lain tidak peduli," kata Livia kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (18/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor lainnya bisa berasal dari diri sendiri. Stres, kata Livia, ibarat flu, bisa dialami semua orang. Orang perlu belajar untuk mempersepsi atau mengolah rasa stres.
"Ada hal yang bisa kita kendalikan, ada juga yang tidak. Hal-hal yang di luar kendali, itulah yang mesti dilepas," kata Livia.
Faktor genetika pun bisa memicu bunuh diri. Livia mengatakan riwayat bunuh diri dalam keluarga dapat membuat anggota keluarga tersebut menjadi lebih rentan melakukan hal yang sama.
Sehingga, ketika menghadapi sebuah masalah, kadang penyelesaian secara instan dianggap lebih baik.
"Padahal tidak seperti itu. Segala sesuatu perlu proses," imbuh Livia.
Dalam unggahan adegan tersebut, banyak komentar netizen yang tidak menunjukkan empati atas kejadian itu.
Situasi ini membawa keprihatinan sendiri dari segi psikologi. Menurut Livia, komentar yang tidak menunjukkan empati cenderung akan membawa beban lebih kepada keluarga yang ditinggalkan.
Bertanya
Untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan pada orang penderita stres dan depresi, Livia mengatakan lingkungan harus mengenali gejala atau tanda yang ada salah satunya adalah perubahan perilaku.
Lihat juga:Dilarang Merenung Jika Ingin Kurangi Stres |
Livia menjelaskan orang yang biasanya ceria lalu mendadak murung atau kehilangan minat terhadap kegiatan yang disukai termasuk gejala dan sepresi.
Bila terjadi pada anak, menurut Livia, salah satu contoh kasus adalah bila anak mendapatkan nilai lebih rendah dari pada biasanya. Livia menyarankan untuk melakukan dialog.
"Kita bertanya ada apa. Lalu yang perlu diperhatikan di sini kita 90 persen mendengarkan, jangan diberi nasehat. Bisa jadi nanti orang itu tambah kesal kalau dinasehati," katanya.
Dia menjelaskan peran psikolog adalah lebih untuk konsultasi. Apabila tidak ada kemajuan atau dampak positif, maka psikolog akan merujuk ke psikiater. (end)