Cara Hadapi Penderita Gangguan Bipolar

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Kamis, 30/03/2017 20:10 WIB
Cara Hadapi Penderita Gangguan Bipolar Budi Putra (paling kiri) himbau penderita gangguan bipolar mau terbuka pada lingkungan terdekat. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Semua orang bisa saja mengalami stres atau depresi tapi tidak semua orang bisa mengalami gangguan bipolar. Mereka yang menderita gangguan bipolar mengalami gangguan pada alam perasaan dalam episode waktu tertentu.

Pada fase manic atau mania, mereka akan sangat aktif, punya segudang ide, energi besar bahkan merasa tidak perlu tidur. Kebalikannya, saat masuk fase depresi, mereka kehilangan minat pada kegiatan yang biasa dilakukan, menarik diri, motorik melamban dan merasa pesimis.

Budi Putra, penderita gangguan bipolar, mengatakan bipolar lebih tergantung pada kondisi lingkungan. Tapi, lanjutnya, tak mungkin orang bisa mengatur lingkungan.


Ia menghimbau penderita gangguan bipolar sebaiknya mau terbuka pada lingkungan terdekat seperti keluarga, teman dekat dan rekan kerja. Keterbukaan ini bisa membuat kondisi psikis penderita bisa lebih stabil. Sebab, lingkungan mau menerima dan mengerti kondisi atau fase yang sedang dialami.

Budi pun memberikan saran dalam menghadapi penderita gangguan bipolar berangkat. Berangkat dari pengalamannya sendiri, saat fase manic, Budi bercerita bahwa ia akan begitu banyak mengemukakan ide atau gagasan kepada rekan kerja atau teman-temannya. Ia menyarankan, ide apapun yang diungkapkan sebaiknya cukup didengarkan.

"Didengarkan saja, jangan terlalu direspon. Ide ada banyak, tapi belum tentu valid atau bisa dieksekusi," kata pria yang kini berprofesi sebagai IT advisor ini, di Jakarta, Kamis (30/3).

Saat fase depresi, kata Budi, umumnya lingkungan menasehati, lalu bertanya sebagai bentuk perhatian. Menurutnya, nasehat itu justru memperparah kondisi. Bahkan penderita gangguan bipolar bisa marah. Saat fase depresi, lingkungan cukup melakukan hal-hal yang kira-kira mendukung atau memaklumi.

"Keluarga saya tahu kalau saya naik ke lantai dua, duduk diam, itu saya masuk fase depresi. Anak dan istri tidak akan menyusul. Tapi mereka kadang hanya mengantar minum, makan, itu saja. Hal itu juga bentuk support dan cara mereka memaklumi," tutur Budi.

Budi bercerita, awalnya ia mengalami fase-fase aneh selama ia berkuliah. Suatu hal yang lazim jika orang terharu saat hadir pada acara besar seperti wisuda teman dekat. Tapi yang ia alami adalah ia menangis saat menonton program kompetisi menyanyi di televisi.

"Mood itu berpindah secara cepat dan suka tidak pada tempatnya," katanya.

Karena merasa aneh dengan dirinya, Budi pun mencari dan membaca sendiri bahan-bahan bacaan yang terkait. Lalu ia menemukan bahwa dirinya mengalami gangguan bipolar karena 80 persen kriteria yang disebutkan dalam bahan bacaannya sesuai dengan dirinya.

"Deteksi dini secara pribadi. Lalu saya konsultasi dan diberi obat, tapi sebenarnya obat tidak begitu banyak membantu," tutur Budi.

Budi berkata, selama ini ia selalu mensugesti diri untuk punya pikiran positif. Hal ini penting untuk menjaga mood-nya.

"Ungkapan 'Have a Nice Day' atau semoga harimu baik, itu tepat kalau buat penderita gangguan bipolar," katanya disusul tawa.