Delapan Jenis Buah dan Sayur yang Mengandung Racun

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Selasa, 11/04/2017 17:31 WIB
Delapan Jenis Buah dan Sayur yang Mengandung Racun Jika tidak diproses dengan tepat, sejumlah buah dan sayur mengandung racun berbahaya yang sebaiknya dihindari. (Foto: aleksandra85foto/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ternyata tidak semua buah dan sayur baik untuk dikonsumsi. Faktanya, buah dan sayur tertentu mengandung racun yang berbahaya bagi tubuh.

"Ide bahwa segala sesuatu yang alami baik untuk anda belum tentu sepenuhnya benar. Kita makan (buah dan) sayuran yang berpotensi mengandung sesuatu yang buruk," kata profesor neurologi dan ilmu kesehatan kerja di Universitas Ilmu Pengetahun dan Kesehatan Oregon, Peter Spencer, seperti dilansir dari CNN, Senin (10/4).

Menurutnya, banyak tanaman ada bukan untuk diambil manfaatnya melainkan untuk melindungi mereka dari predator.


CNN melaporkan ada beberapa jenis buah dan sayur yang mengandung racun berbahaya jika tidak diproses dengan tepat sebelum dikonsumsi. Buah dan sayur ini juga berbahaya bagi penderita penyakit tertentu, karena bisa memperparah kondisi penyakit bahkan mengakibatkan kematian.

Leci

Di balik tampilan luar yang kasar dan berduri, leci punya tekstur lembut, berair dan manis. Mungkin satu tidaklah cukup. Namun, jika dimakan dalam keadaan perut kosong atau anak yang mengalami malnutrisi, leci bisa jadi racun dan bisa berakibat fatal. Hal ini seperti yang terjadi di kota Muzaffarpur, India. Sebuah penyakit misterius mewabah di wilayah dengan produksi leci tertinggi di India.

Tiap tahun, ribuan anak di India dirawat di rumah sakit karena dema dan kejang-kejang. Laporan terbaru mengungkapkan kemungkinan mereka terkena racun dari leci mentah.

Racun dari leci mentah yang berkolaborasi dengan rendahnya gula darah mengakibatkan kadar gula darah yang semakin rendah atau hipoglikemia. Racun menghambat produksi gula dalam tubuh yang mana jadi berbahaya ketika tidur dan kadar gula darah menurun.

Pemimpin investigasi di Muzaffarpur, dokter Padmini Srikantiah mengatakan hal ini dapat berujung pada ensefalopati, perubahan fungsi otak.

"Racun alami pada leci berhubungan dengan keracunan yang berakibat pada enfaselopati. Ini sangat mungkin ketika metabolisme glukosa terganggu, anda mendapat tambahan metabolisme yang punya efek racun juga," katanya seperti dikutip dari CNN (10/4).

Namun, leci bukanlah satu-satunya buah dengan potensi racun jika dimakan saat perut kosong atau tanpa diproses.

Ackee

Padmini berkata, ackee mentah mengandung racun yang sama dengan leci yakni hypoglycin. Warga Jamaika dan Afrika Barat tahu betul soal racun alami dalam buah ackee. Di sanalah buah ackee banyak tumbuh. Ackee berasal dari Afrika Barat dan terbawa hingga seberang Samudera Atlantik selama penjualan budak.

Sebagai buah nasional Jamaika, ackee adalah makanan nasional di sana selain ikan asin. Namun warga lokal tidak akan mengonsumsi ackee mentah atau ackee yang tidak dimasak. Ackee dimakan setelah direbus dan sebagai hidangan dengan rasa gurih.

"Hal ini sudah umum di Jamaika jika anak anda makan ackee mentah, sebaiknya bawa dia ke rumah sakit atau beri dia sesendok gula untuk menaikkan glukosa," kata Peter.

Anak-anak paling sering keracunan khususnya mereka yang menderita malnutrisi, yang tidak bisa menyimpan gula karena terhambat racun. Peter memperkirakan, hal ini berhubungan dengan massa tubuh, artinya anak-anak mungkin hanya perlu makan dalam porsi lebih sedikit.

"Secara umum, anda lihat anak-anak yang tidak tahu buah yang mentah bisa berbahaya," kata Padmini.

Ketela

Di Afrika, Amerika Selatan dan sebagian Asia, ketela jadi sumber kalori paling penting ketiga setelah jagung dan beras, berdasarkan Bank Dunia, yang memberi makan lebih dari 600juta orang per hari.

Jenis tanaman akar ini enak digoreng, direbus maupun dipanggang. Selain itu, ketela juga dapat diolah menjadi tepung. Namun, bahan makanan pokok ini bisa beracun jika tidak diolah dengan benar.

Peter berkata, tanaman ini mengandung racun hidrogen sianida dan perlu regulasi ketat terkait proses pengolahan dan produksi untuk mengurangi kadar racunnya.

"Ketela memberi makan jutaan orang di seluruh dunia. Namun jika anda sangat miskin dan tak punya waktu untuk mengolahnya, lalu anda bisa sakit," katanya.

Pemrosesan meliputi fermentasi, pengupasan, pengeringan dan dimasak untuk menghilangkan racun. Memakannya dalam keadaan mentah atau tanpa pemrosesan, lanjut Peter, berati makan sianida yang mana bisa berpengaruh pada hormon tiroid dan merusak sel saraf otak yang berhubungan dengan gerakan. Racun dalam umbi juga bisa mengakibatkan kelumpuhan.

Gangguan saraf yang berakibat pada kelumpuhan atau disebut konzo punya prevalensi yang tinggi di beberapa negara berkembang termasuk Republik Kongo. Di sana, kekeringan, kelaparan dan konflik meningkatkan kemungkinan orang mengonsumsi tanaman tanpa diproses.

Peter takut masalah ini meningkat di bagian lain Afrika, Asia dan Amerika Latin karena perubahan iklim dan meningkatnya kekeringan.

Belimbing

Belimbing biasa digunakan untuk obat herbal, tapi jika dikonsumsi oleh seseorang yang sakit ginjal, akibatnya bisa fatal.

National Kidney Foundation Amerika Serikat berkata, belimbing mengandung racun yang bisa berpengaruh ke otak dan mengakibatkan gangguan saraf. Racun ini diproses dan dihilangkan dalam tubuh bagi orang dengan ginjal yang sehat, tapi sebaliknya, jika orang itu terkena penyakit ginjal kronis, racun tidak dapat dinetralisir. Akibatnya, racun bisa berpotensi menyebabkan kematian.

"Buah ini beresiko untuk siapapun yang punya penyakit ginjal," kata Peter. Studi baru-baru ini menemukan beberapa kasus yang mana orang mengonsumsi untuk melakukan penyembuhan, sebagai obat herbal, dan memperparah penyakit ginjal atau gagal ginjal setelah konsumsi berlebihan dalam jangka waktu panjang.

Gejala dari racun belimbing meliputi cegukan, berkurangnya kesadaran, dan epilepsi.

Tebu

Tanaman tebu sebenarnya tidak berbahaya untuk dimakan, tapi jika dibiarkan terlalu lama, akibatnya tidak akan 'manis' lagi.

Makan tebu berjamur atau terlalu lama disimpan beresiko meracuni berkat jamur yang tumbuh pada tanaman ketika tebu disimpan lebih dari beberapa bulan.

"Jika jamur termakan anak-anak, itu bisa berakibat pada kematian atau penyakit saraf seumur hidup," kata Peter. Racun ini berbahaya untuk semua usia, walau anak-anak dan remaja umumnya jadi korban racun.

Jamur bernama artbrinium memproduksi racun yang bisa mengakibatkan muntah-muntah, kejang-kejang dan koma.

Sikas

Satu produk populer dari tanaman sikas adalah sagu. Pati yang berasal dari batang pohon sagu bisa dimakan dalam berbagai bentuk. Seperti ketela, tanaman sikas termasuk sagu perlu pemrosesan untuk menghilangkan racun di dalamnya.

"Ini tanaman purba, tapi satu dari tanaman paling beracun di dunia. Bisa berakibat pada penyakit neurodegeneratif," jelas Peter.

Kemungkinan tanaman ini memainkan peranan dalam penyakit Guam, sebuah penyakit saraf termasuk alzheimer dan parkinson di pulau Guam, di mana tanaman berasal.

Dua racun, sikasin dan BMAA, bisa dihilangkan dengan proses pencucian, fermentasi dan pemasakan.

Kentang

Tidak begitu mengagetkan ketika kentang bisa jadi beracun, khususnya dikonsumsi ketika kentang sudah bertunas atau berwarna hijau.

Racun kentang, solanine, ditemukan pada tanaman tapi penya resiko lebih besar saat kentang berwarna hijau atau dengan tunas ynag sudah tumbuh.

Gejala keracunan termasuk muntah, sakit perut, halusinasi dan bahkan kelumpuhan.

Kacang Merah

Bnayak spesies kacang mengandung racun phytohemagglutinin, tapi kandungan racun banyak terkonsentrasi pada kacang merah mentah. kandungan racunberkurang signifikan dalam kacang yang dimasak.

Racun ini selama tiga jam bisa mengakibatkan mual, diare dan muntah, sakit perut. Efek dari racun pada kacang merah tidak separah racun dari ketela atau belimbing. Pemulihan akibat racun ini bisa lebih cepat setalh tiga tau empat jam gejala keracunan muncul.