logo CNN Indonesia

Cerita Perjuangan Evie Trefina, Penyintas Kanker Serviks

, CNN Indonesia
Cerita Perjuangan Evie Trefina, Penyintas Kanker Serviks Usai menjalani radioterapi internal dan eksternal, serta delapan kali kemoterapi, ia memutuskan untuk berserah diri. Evie percaya dirinya akan sembuh. (Foto: Pixabay/PublicDomainPictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Evie Trefina (69) mengetahui dirinya menderita kanker serviks stadium 3B sejak sekitar enam tahun lalu. Setelah menjalani delapan kali kemoterapi, 25 kali radioterapi eksternal dan tiga kali radioterapi internal, ia memutuskan untuk berserah diri.

Keputusan untuk tidak melanjutkan kemoterapi bukanlah hal yang mudah. Evie harus bertaruh pada segala kemungkinan yang terjadi antara hidup dan mati.

"Saya dinyatakan sembuh secara resmi dari dokter itu belum, tapi saya meyakini diri saya sendiri. Ketika dikatakan dokter untuk kemo lagi, saya berpikir dari mana (dana) kemo itu. Begitu besar dananya," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, saat dihubungi di Jakarta, pada Senin (17/4).

Dia mengaku, sebanyak Rp20 juta harus dikeluarkannya untuk sekali kemoterapi. Biaya yang semakin membengkak membuatnya memilih untuk tidak melanjutkan kemoterapi. Namun, hal itu didasarinya dengan percaya akan kesembuhan.

Awal diagnosa

Evie tidak mengalami rasa sakit sedikitpun sebelum dirinya divonis kanker serviks. Setelah enam bulan mengalami keputihan yang berlebihan, dirinya pun mengalami pendarahan. Saat itulah, dia memeriksakan dirinya ke dokter.

Tidak kaget dengan vonis kanker dari dokter, begitulah pengakuan Evie. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, ia merasa yakin ada yang aneh ketika pendarahan itu menyerangnya.

"Saat keputihan, saya menggunakan pantyliner tapi ternyata tidak cukup menampung lalu saya menggunakan pembalut. Dari pakai pembalut ada flek sedikit, lama-lama kok ini banyak tapi ini saya pikir karena sering naik turun tangga," tuturnya.

"Tapi ini sudah kelainan kalau saya yang sudah umur segini mengalami pendarahan, sudah tidak benar. Waktu bertemu dokter, dia justru seperti ragu untuk mengatakan kepada saya akhirnya saya bilang saya sudah kena CA (kanker) ya dok,"ucapnya.

Cerita Perjuangan Evie Trefina, Penyintas Kanker Serviks Evie Trefina bersama Paguyuban Pelangi. (Foto: Dok. EvieTrefina)
Proses pengobatan

Pengobatan pun dijalaninya sejak Desember 2012 hingga Maret 2013. Setiap Senin, dirinya menjalani kemoterapi dan radioterapi. Kemudian, dia akan kembali ke rumah sakit untuk kontrol setiap Jumat. Tak urung, dirinya pun harus menerima transfusi darah sebelum kemoterapi berlangsung karena hemoglobinnya di bawah 10.

Tentu saja, Evie pun mengalami efek setelah menjalani kemoterapi seperti tidak nafsu makan dan mual. Rasa lelah dirasakannya, tetapi semangat untuk kesembuhan tidak surut begitu saja.

Evie mengatakan, dirinya berusaha tidak stres untuk menjaga imunitasnya terus baik. Imunitas tersebut menjadi penting karena dapat menghancurkan sel kanker yang beredar di tubuhnya.Bahkan, dokter pun tidak memberikan pantangan apapun untuk asupan makanannya. Dia terus membuat dirinya merasa lebih baik untuk melupakan sakit yang dialaminya.

Tak hanya itu, dirinya terus bersyukur dengan apa yang dia terima saat ini. Bahkan, kegiatan bertemu dengan sesama pengidap kanker pun dilakukannya bersama paguyuban yang dia ikuti yakni, Paguyuban Pelangi.

"Saya menyerahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, setiap kali saya bangun, saya bersyukur karena masih ada mukjizat. Saya dapat menahan diri untuk tidak emosi dan tidak stres, membawanya dalam doa," tuturnya kemudian.

Cerita Perjuangan Evie Trefina, Penyintas Kanker Serviks Bertemu dengan sesama pengidap kanker lainnya di Paguyuban Pelangi. (Foto: Dok. EvieTrefina)

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Mewaspadai Bahaya Kanker Serviks
0 Komentar
Terpopuler
CNN Video