AS Tinjau Kembali Program Bebas Visa bagi Negara Eropa

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Jumat, 21/04/2017 13:55 WIB
Jika benar program bebas visa kunjungan dibatasi, maka wisatawan Eropa akan semakin kesulitan untuk berkunjung ke AS. Ilustrasi. (PublicDomainPictures/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana untuk meninjau kembali program bebas visa kunjungan bagi negara-negara Eropa, karena khawatir dengan kedatangan teroris. Jika benar program bebas visa kunjungan dibatasi, maka wisatawan Eropa akan semakin kesulitan untuk berkunjung ke AS.

Selama ini, penduduk Eropa boleh datang ke AS tanpa perlu mengurus visa untuk menetap selama 90 hari.

“Kita harus meninjau kembali program bebas visa. Bukan mengurangi jumlah negara penerima atau melakukan sesuatu yang berlebihan. Negara kita bagai Super Bowl bagi teroris. Dari sana mereka bisa saja datang,” kata Direktur Departemen Keamanan Dalam Negeri AS John Kelly, seperti yang dikutip dari CNN Money pada Kamis (20/4).


Sejak 1986, sebanyak 38 negara masuk dalam program bebas visa kunjungan ke AS. Negara-negara yang memiliki hak istimewa itu kebanyakan merupakan sekutu terdekat AS.

Meski demikian, penduduk dari negara-negara tersebut tetap harus melalui sistem pengecekan Electronic System for Travel Authorization (ESTA) sebelum diizinkan masuk ke AS.

Dari sistem tersebut, pemerintah AS menilai latar belakang seseorang yang ingin berkunjung, sehingga ancaman keamanan bisa ditekan.

Program bebas visa kunjungan semakin diperketat sejak peristiwa 9/11. Penduduk negara yang memiliki dua kewarganegaraan atau yang pernah berkunjung ke Irak, Iran, Suriah dan Sudan sudah pasti sulit masuk ke AS.

Namun, fakta di lapangan menyebutkan kalau banyak penduduk Eropa yang bergabung dengan kelompok teroris ISIS di Irak dan Suriah.

Saat terjadi serangan di Paris pada November 2015 yang menyebabkan 129 orang tewas, diketahui kalau para pelaku merupakan anggota ISIS yang memiliki paspor Perancis dan Belgia.

Sejak kejadian itu, Barack Obama yang masih menjabat sebagai Presiden AS telah meminta agar program bebas visa kunjungan ditinjau kembali.

Jutaan wisatawan Eropa dan negara lain yang menerima program bebas visa kunjungan datang ke AS setiap tahunnya. Kedatangan mereka tentu saja menambah pemasukan AS.

Dikutip dari Travel and Leisure, kedatangan mereka menyumbang US$84 miliar untuk pendapatan AS pada 2014. Jadi pembatasan program bebas visa kunjungan dikhawatirkan bakal membuat banyak kerugian dalam industri pariwisata.

“Saya benci mengucapkan kalimat ini, tapi benar, itu akan sangat merugikan,” ujar juru bicara Badan Pariwisata Kota New York Chris Heywood.

Kota New York merupakan tujuan wisata utama bagi wisatawan yang datang ke AS. Dari data yang dimiliki Heywood, wisatawan asal Inggris, Perancis dan Jerman, terkenal sangat royal membelanjakan uangnya.

Secara total, wisatawan Inggris menyumbang US$1,6 miliar, wisatawan Perancis menyumbang US$1,11 miliar, dan wisatawan Jerman menyumbang US$1,11 miliar, untuk pendapatan Kota New York pada 2015.

“Ada banyak negara yang berjuang untuk mendapatkan keutungan dari industri pariwisata. Tapi, wisatawan lebih tertarik untuk datang ke tempat yang menyambut mereka dengan ramah,” pungkas Heywood.