Peraturan Imigrasi Trump Buat Lesu Pariwisata AS

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Rabu, 22/02/2017 16:19 WIB
Peraturan Imigrasi Trump Buat Lesu Pariwisata AS Pencarian paket wisata ke AS menurun sebanyak 30 persen setelah peraturan imigrasi baru diumumkan Trump pada 27 Januari kemarin. (REUTERS/Kevin Lamarque)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saat masa kampanye pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump berjanji untuk meningkatkan perekonomian negaranya dengan membuka sebanyak mungkin lapangan pekerjaan.

Namun, setelah terpilih, ia malah seakan menampar salah satu industri yang menyumbang pendapatan negaranya, yaitu pariwisata.

Seperti yang dilansir dari CNN pada Rabu (22/2), saat ini banyak pengamat yang memperkirakan kalau industri pariwisata di Negeri Paman Sam akan lesu, setelah Trump mengeluarkan peraturan baru terkait imigrasi, salah satunya ialah mendeportasi penduduk dari tujuh negara mayoritas Muslim di dunia.


Bukan hanya pendatang, deportasi itu juga akan berlaku kepada penduduk yang memegang izin tinggal (green card).

Pengamat sangat menyayangkan langkah Trump tersebut, karena membuat banyak wisatawan mancanegara (wisman) yang enggan datang ke AS.

Situs perjalanan wisata, Cheapflights, melaporkan kalau pencarian paket wisata ke AS menurun sebanyak 30 persen setelah peraturan imigrasi baru diumumkan pada 27 Januari kemarin.

“Terus terjadi penurunan angka, ini menandakan kalau banyak wisman yang enggan datang ke AS terkait keresahan akibat peraturan tersebut,” kata Emily Fisher, juru bicara Cheapflights.

Agen perjalanan wisata Intrepid Travel juga mengatakan hal senada.

“Sebelum peraturan diumumkan, kami mendapat sebanyak 120 persen pemesanan berasal dari Australia dan 96 persen pemesanan berasal dari Inggris Raya. Di hari peraturan imigrasi diumumkan, masing-masing pemesanan turun sebanyak 21 persen dan 30 persen,” ujar Leigh Barnes, Direktur Intrepid Travel.

Penyedia informasi industri pariwisata dunia, Skift, mengatakan kalau kondisi ini akan memperburuk industri pariwisata di AS, yang juga tertampar akibat melemahnya mata uang di sejumlah negara dunia, terutama Inggris, yang selama ini menyumbang jumlah kedatangan wisman.

“Jika peraturan imigrasi itu sudah sangat menganggu bagi wisatawan dan wisatawan bisnis, maka industri pariwisata di AS akan sangat merugi,” kata Jason Clampet, Pemimpin Redaksi Skift.

Bukan cuma jumlah kedatangan yang terkena dampak, namun juga ketersediaan lapangan kerja di AS.

Banyak pemimpin perusahaan besar, seperti Starbucks, Google, GE, Goldman Sachs dan Ford, yang khawatir peraturan imigrasi baru akan membuat rumit pengurusan visa para pekerja pendatang, yang berakibat menurunnya produktivitas kerja.

(ard)