Memahami Efek Samping dan Manfaat Alat Kontrasepsi

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Kamis, 27/04/2017 01:28 WIB
Alat kontrasepsi memiliki efek samping yang berbeda-beda, tergantung dari jenis kontrasepsi yang digunakan. Alat kontrasepsi memiliki efek samping yang berbeda-beda, tergantung dari jenis kontrasepsi yang digunakan. (Foto: kerryank/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagai salah satu upaya mewujudkan program Keluarga Berencana, pasangan suami istri dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi. Ada beberapa pilihan jenis kontrasepsi, yakni hormonal seperti pil dan suntik KB atau non hormonal seperti Intra Uterine Device (IUD) yang berbentuk spiral.

Namun, apakah penggunaan alat kontrasepsi memiliki efek samping bagi penggunanya?

Aditya Putra, General Manager Family Planning & Reproductive Health DKT Indonesia mengungkapkan efek samping langsung memang akan dirasakan oleh pengguna alat kontrasepsi. Namun, efek tersebut tergantung dari jenis kontrasepsi yang digunakan.


"Efek samping langsung ada, tergantung jenis kontrasepsinya. Tapi, efek itu antara satu perempuan dengan perempuan lainnya berbeda," ujarnya di sela-sela peluncuran kontrasepsi Andalan di Penang Bistro, Kuningan, Jakarta, pada Rabu (26/4).

Untuk kontrasepsi hormonal seperti pil keluarga berencana dan suntik, memiliki efek samping seperti spoting atau bercak-bercak. Rasa mual tak jarang muncul bagi penggunanya.

Sedangkan untuk kontrasepsi suntik KB 3 bulan, perempuan dapat berhenti menstruasi. Namun, Aditya mengatakan, hal tersebut normal terjadi karena badan belum dapat menyesuaikan dengan kadar hormon alat tersebut. Siklus menstruasi perempuan akan kembali normal saat tubuh sudah dapat menyesuaikan.

Sementara, untuk kontrasepsi non hormonal seperti Intra Uterine Device (IUD) yang berbentuk spiral pada perempuan juga memiliki efek samping seperti bercak-bercak.

"Sebetulnya, efek samping itu tidak berbahaya dan berat, dia akan normal saat tubuh menyesuaikan," tuturnya.

Meski demikian, Aditya mengatakan, perempuan lebih baik melakukan konsultasi dengan bidan atau dokter sebelum menggunakan alat kontrasepsi. Hal itu untuk mengetahui apakah ada penyakit yang tidak dapat menerima efek dari alat tersebut.

"Ada beberapa hal yang harus diperiksa dulu seperti apakah punya riwayat darah tinggi, jantung, atau riwayat kanker di keluarganya," ucapnya.

Tujuannya, kata dia, untuk menyesuaikan kadar hormon dalam alat kontrasepsi dengan keadaan tubuh.

Keuntungan kontrasepsi

Meski memiliki efek samping, Aditya mengatakan, penggunaan alat kontrasepsi justru menguntungkan perempuan dalam menyejahterakan keluarga.

Keuntungan itu di antaranya, dapat menjaga jarak kehamilan, mendampingi tumbuh kembang anak, memiliki waktu bersosialisasi dengan lingkungan dan memiliki ruang untuk pasangan suami istri mewujudkan keluarga yang harmonis serta membantu ekonomi keluarga.

Jarak kehamilan menjadi penting dalam keluarga. Idealnya, seorang ibu harus memberikan jarak kehamilan 3 sampai 5 tahun untuk kembali mengandung.

Alasannya, seorang ibu dapat memberikan air susu ibu kepada bayinya selama dua tahun secara maksimal.

"Kalau masih menyusui terus hamil kan tidak maksimal, karena harus memenuhi nutrisi bayi dan yang ada di kandungan," ujarnya.

Selain itu, kontrasepsi dapat bermanfaat bagi ibu yang menderita anemia. Penambahan hormon dalam alat kontrasepsi dapat membantu melancarkan menstruasi dan memberi asupan hormon yang bermanfaat bagi tubuh.